Sentuhan Ilahi di Warung Kopi, Fajar Shidik dan Obrolan Kecil Penggugah Jiwa
0 menit baca
Poto Yudhistira/iNet99.id
Muh Fajar Shidik Ch
Majalengka
DPRD
Warung Kopi
Majalengka, iNet99.id - Di mana kita biasanya menemukan Tuhan? Seringkali kita mencarinya di keheningan malam atau di kemegahan rumah ibadah. Namun, sebuah refleksi mendalam nan humanis datang dari seorang wakil rakyat di Majalengka, Muh Fajar Shidik Ch.
Ia mengingatkan kita pada sebuah kebenaran sederhana yang sering terlupakan: bahwa sentuhan Ilahi seringkali hadir di tempat-tempat paling biasa—di teras rumah yang teduh, di tengah aroma kopi di warung pinggir jalan, atau di sela-sela tawa renyah bersama sahabat.
Bagi Fajar Shidik, anggota DPRD Majalengka dari fraksi PPP ini, momen-momen "remeh" itu justru bisa menjadi cermin paling jujur bagi jiwa kita yang sering alpa.
Dalam sebuah pernyataan yang jauh dari kesan menggurui, Fajar menyentuh sisi paling rentan dari kemanusiaan kita: ketidaksempurnaan.
"Kita bukan orang paling alim. Kita juga masih sering salah," ujarnya. Sebuah pengakuan tulus yang meruntuhkan tembok ego. Ia mengajak kita berhenti berpura-pura sempurna dan mulai merangkul kerendahan hati.
Namun, di tengah ketidaksempurnaan itu, ada satu keajaiban. Fajar menggambarkan bagaimana hati manusia, sekeras apapun, akan terasa "lebih ringan" setiap kali nama Allah disebut, setiap kali kata 'shalat', 'sabar', dan 'dosa' terselip dalam percakapan. Ada kerinduan purba dalam jiwa manusia untuk kembali pada Sang Pencipta, yang seringkali terpenuhi lewat obrolan-obrolan kecil yang tak terduga.
"Iman Jangan Ikut Santai"
Narasi yang dibangun Fajar Shidik mencapai puncaknya pada sebuah paradoks yang indah. Ia menyoroti kontras antara suasana santai di warung kopi dengan urgensi arah hidup.
Hidup ini singkat, sebuah klise yang nyata. Namun, di tengah kesadaran akan singkatnya waktu itu, Fajar melemparkan sebuah kalimat menohok yang layak menjadi renungan.
"Ngobrol boleh santai. Iman jangan ikut santai."
Kalimat ini adalah sebuah alarm. Ia mengingatkan bahwa meskipun kita sedang menikmati jeda dalam hidup, kompas moral dan spiritual kita tidak boleh kehilangan arah. Obrolan di warung kopi boleh saja cair dan penuh canda, namun substansi di dalamnya harus tetap memiliki bobot yang menjaga kita tetap di jalur-Nya.
Harapan dari Obrolan Kecil.
Menutup refleksinya, Fajar Shidik melambungkan sebuah doa dan harapan yang menyentuh hati. Ia berharap, interaksi-interaksi kecil yang sering kita anggap angin lalu itu, ternyata memiliki nilai transendental.
"Semoga dari obrolan kecil hari ini, Allah catat sebagai amal besar. Aamiin," pungkasnya.
Ini adalah sebuah ajakan halus namun bertenaga agar kita mulai memaknai setiap perjumpaan. Bahwa di setiap sudut warung kopi, di setiap teras rumah di seluruh penjuru negeri ini, ada kesempatan untuk saling mengingatkan, bukan karena kita merasa paling suci, tetapi karena kita sama-sama pejalan yang membutuhkan arah di dunia yang sementara ini.
Pewarta: Yudhistira

