BREAKING NEWS

Retak Sebelum Umur, Proyek Jalan Munjul–Ciandeu Picu Pertanyaan: Sindiran Bupati Eman Suherman Mengarah ke Sini?

Retak Sebelum Umur, Proyek Jalan Munjul–Ciandeu Picu Pertanyaan: Sindiran Bupati Eman Suherman Mengarah ke Sini?
Kondisi aspal jalan Munjul-Ciandeu, Kabupaten Majalengka. (Foto: Eko)

Majalengka, iNet99.id — Belum juga genap sepekan sejak dikerjakan, proyek pemeliharaan Jalan Munjul–Ciandeu di Kabupaten Majalengka mulai memperlihatkan tanda-tanda kerusakan. Di sejumlah titik, permukaan jalan tampak retak dan tidak lagi mulus seperti konstruksi yang baru selesai dikerjakan.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan sedikitnya terdapat 11 titik keretakan di ruas jalan tersebut. Kondisi itu ditemukan hanya dua hari setelah pekerjaan dilakukan pada 15 Mei 2026. Saat tim iNet99.id kembali mendatangi lokasi pada 17 Mei 2026, permukaan jalan yang semestinya masih dalam kondisi prima justru sudah memperlihatkan penurunan kualitas.

Retakan terlihat memanjang di beberapa bagian permukaan aspal. Pada sejumlah titik lain, tekstur jalan tampak tidak rata. Temuan ini memunculkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan, metode pelaksanaan, hingga efektivitas pengawasan proyek.

Berdasarkan informasi yang terpasang di lokasi proyek, pekerjaan pemeliharaan Jalan Munjul–Ciandeu tersebut menggunakan anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) senilai lebih dari Rp300 juta dan dikerjakan oleh CV Bima.

Besarnya anggaran itu membuat kondisi jalan yang cepat mengalami keretakan menjadi sorotan. Sebab, proyek pemeliharaan jalan sejatinya merupakan pekerjaan dasar yang hasilnya paling mudah dirasakan masyarakat. Jalan yang baru selesai dikerjakan seharusnya mampu bertahan dalam kondisi baik dalam kurun waktu tertentu, bukan justru mulai rusak dalam hitungan hari.

Situasi itu tampaknya sejalan dengan kegelisahan yang belakangan disampaikan Bupati Majalengka, Eman Suherman. Usai Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Majalengka, Rabu (20/5/2026), Eman secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap mutu sejumlah proyek pembangunan di daerahnya.

Nada pernyataannya terdengar tidak biasa. Tidak normatif. Bahkan dapat dibaca sebagai sinyal peringatan bagi para kontraktor maupun pelaksana proyek pemerintah daerah.

“Pembangunan harus segera berjalan dan hasilnya harus benar-benar dirasakan masyarakat. Karena itu pengawasan harus diperkuat,” kata Eman.

Meski tidak menyebut secara spesifik proyek mana yang dimaksud, pernyataan itu memunculkan spekulasi di tengah publik. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah proyek pemeliharaan Jalan Munjul–Ciandeu yang baru selesai dikerjakan tetapi sudah menunjukkan kerusakan dini.

Pertanyaan kemudian mengemuka: apakah proyek tersebut termasuk pekerjaan yang sedang disindir oleh Bupati?

Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak pelaksana proyek terkait munculnya retakan di ruas jalan tersebut. Belum diketahui pula apakah kerusakan terjadi akibat faktor teknis, kualitas material, proses pengerjaan yang terburu-buru, atau lemahnya pengawasan di lapangan.

Namun di tengah sorotan publik terhadap kualitas infrastruktur daerah, kondisi Jalan Munjul–Ciandeu menjadi gambaran yang sulit dibantah: proyek yang baru selesai, tetapi sudah menyisakan persoalan.

Bagi warga, jalan bukan sekadar lapisan aspal. Ia adalah wajah pelayanan pemerintah yang paling nyata dilihat sehari-hari. Ketika jalan baru mulai retak hanya dalam hitungan hari, yang ikut retak bukan cuma permukaannya, tetapi juga kepercayaan publik terhadap kualitas pembangunan itu sendiri. (Tim/eko)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

💛 Dukung Jurnalisme Independen

Besar kecilnya dukungan Anda sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Terkini