SEPINTAR APAPUN TIDAK AKAN ADA ARTINYA JIKA TIDAK BERPOLITIK
0 menit baca
![]() |
| Dian Rahadian Budayawan Jawa Barat |
Jawa Barat, iNet99.id - Di tengah derasnya arus globalisasi, muncul kegelisahan yang kian terasa di ruang publik: apakah bangsa ini masih berdiri di atas jati dirinya sendiri, atau justru perlahan kehilangan arah? Pertanyaan ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari realitas sosial, ekonomi, dan politik yang terus bergerak tanpa kendali yang jelas bagi sebagian masyarakat.
Seorang budayawan asal Jawa Barat, Dian Rahadian, menyampaikan pandangan kritisnya terkait kondisi tersebut. Ia menilai bahwa kecerdasan tanpa keterlibatan dalam politik tidak akan memiliki dampak nyata dalam menentukan arah bangsa.
Menurut Dian, politik dan ekonomi merupakan dua pilar utama yang menentukan arah sebuah peradaban. Tanpa penguasaan keduanya, sebuah bangsa berisiko kehilangan kendali atas masa depannya sendiri.
Dalam pandangannya, adat diposisikan sebagai fondasi awal yang membentuk identitas—siapa kita dan apa yang kita miliki. Adat bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan pijakan penting dalam memahami eksistensi kolektif sebagai bangsa.
Sementara itu, tradisi dipandang sebagai bentuk ekspresi dari identitas tersebut. Tradisi mempertegas nilai, memperkaya makna kehidupan, dan menjadi sarana pewarisan moral serta spiritual dari generasi ke generasi.
Namun, Dian menegaskan bahwa budaya memiliki dimensi yang lebih kompleks. Ia bisa menjadi alat pengabdian yang memperkuat bangsa, tetapi juga dapat menjadi instrumen dominasi yang berujung pada penjajahan, baik secara halus maupun terbuka.
Di sisi lain, ekonomi dan politik disebut sebagai ujung dan pangkal dari sebuah peradaban yang pada akhirnya bermuara pada penguasaan teknologi. Ketertinggalan dalam teknologi dinilai sebagai tanda lemahnya posisi suatu bangsa dalam percaturan global.
Pertanyaan pun muncul: jika sebuah bangsa tertinggal dalam teknologi, ekonomi, dan politik, akan menjadi bangsa seperti apa di masa depan? Kekhawatiran ini semakin menguat ketika dominasi budaya asing mulai menggeser nilai-nilai lokal.
Lebih jauh, hilangnya adat dan tradisi dianggap sebagai sinyal krisis identitas yang serius. Tanpa akar budaya yang kuat, sebuah bangsa berpotensi kehilangan arah dan tujuan kolektifnya.
Ia juga menyoroti persoalan kedaulatan teritorial. Ketika sumber daya alam, tanah, dan air tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh bangsa sendiri, muncul pertanyaan mendasar tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.
Fenomena tersebut memunculkan ironi: sebuah negara yang diakui secara formal, namun secara substansi kehilangan kendali atas wilayah dan sumber dayanya. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk penjajahan modern yang berlangsung secara sistemik.
Di akhir pernyataannya, Dian mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali makna kebangsaan. Apakah bangsa ini masih layak disebut besar, dan apakah kemerdekaan benar-benar dirasakan secara lahir dan batin oleh seluruh rakyat.
Penulis: Dian Rahadian
