BREAKING NEWS

Warung Mimi Encas: Tempat di Mana Lapar Diselesaikan Tanpa Drama Dompet

Warung Mimi Encas: Tempat di Mana Lapar Diselesaikan Tanpa Drama Dompet
Pengunjung memilih menu makanan yang disajikan. (Foto: Eko)

Majalengka, iNet99.id– Kalau kamu tipe orang yang suka curiga duluan sebelum percaya, mungkin kamu bakal mikir dua kali waktu pertama lihat Warung Mimi Encas. Soalnya, dari luar, tempat ini lebih mirip rumah makan mahal atau spot wisata yang siap bikin dompet megap-megap. Luas, rapi, estetik, khas Sunda banget.

Tapi tunggu dulu. Di sinilah plot twist-nya.
Warung ini justru pakai konsep yang hampir terdengar seperti hoaks di zaman serba mahal: “Dahar Sawaregna, Bayar Saikhlasna.” Makan sepuasnya, bayar semampunya. Bahkan kalau lagi bokek akut, ya sudah, makan saja dulu.
Iya, serius.

Pengelolanya, Wawan—adik dari anggota DPR RI H. Ateng Sutisna,bilang kalau ide ini bukan hasil seminar panjang soal ekonomi kerakyatan atau workshop kewirausahaan sosial. Cuma dari obrolan keluarga yang kebetulan kepikiran satu hal sederhana: di luar sana, masih banyak orang yang nahan lapar.

“Ya intinya pengen berbagi saja. Masih banyak yang butuh makan,” kata Wawan, Sabtu (18/4/2026).

Dari situ, lahirlah warung yang secara logika bisnis mungkin bikin dahi berkerut. Nggak ada daftar harga. Nggak ada kasir yang siap menatap tajam kalau kamu bayar kurang. Yang ada cuma kotak pembayaran seikhlasnya,itu pun kalau kamu merasa perlu bayar.

“Kalau nggak bayar juga nggak apa-apa. Memang ada yang benar-benar nggak punya,” lanjutnya.

Kalau kamu anak ekonomi atau pernah ikut kelas manajemen bisnis, mungkin konsep ini terdengar seperti resep bangkrut yang tinggal menunggu waktu. Tapi anehnya, Warung Mimi Encas justru tetap hidup. Bahkan, bukan cuma hidup—tapi ramai.

Taman Saung Panganter Kahayang menjadi tempat pavorite pengunjung untuk berswapoto

Dalam sehari, pengunjungnya bisa tembus ratusan orang. Kadang sampai 700 porsi makanan habis diserbu.

“Secara hitungan mungkin nggak masuk akal. Tapi alhamdulillah cukup terus. Ya ini mungkin yang disebut ‘matematika Allah’,” ujar Wawan.

Dan di titik ini, kamu mulai sadar: mungkin memang tidak semua hal harus dijelaskan pakai Excel.

Warung ini buka dari pagi sampai sore, atau sampai makanan habis. Menunya sederhana—masakan rumahan khas Sunda yang justru jadi alasan banyak orang balik lagi. Nggak neko-neko, tapi ngangenin.

Yang bikin tempat ini makin beda, fungsinya nggak berhenti di urusan perut. Area warung yang luas sering dipakai buat berbagai kegiatan warga. Mulai dari senam, latihan silat, sampai tempat anak-anak main.

Bahkan, pengelola suka nambah “bonus” kecil: bubur kacang hijau, telur, sampai alat gambar buat anak-anak yang datang.

“Daripada kosong, mending dipakai bareng. Yang penting dijaga saja,” kata Wawan santai.

Suasananya juga mendukung. Ada taman Saung Panganter Kahayang yang bikin adem, plus koleksi domba Garut premium yang kalau kamu beruntung bisa jadi hiburan gratis sambil nunggu lapar datang lagi.

Nggak heran kalau warung ini mulai didatangi orang dari luar daerah. Dari Bandung, Indramayu, sampai Bekasi, banyak yang penasaran: masa sih ada tempat makan kayak gini di dunia nyata?

Salah satu pengunjung, Alyani dari Sutawangi, Jatiwangi, juga awalnya nggak percaya.

“Kirain mahal, ternyata malah bebas bayar. Makanannya enak lagi, kayak masakan rumah. Tempatnya juga enak buat santai,” katanya.

Warung Mimih Encas sendiri baru buka setelah Lebaran 2026. Umurnya masih muda, tapi ceritanya sudah cukup buat bikin banyak orang mikir ulang: mungkin berbagi itu sebenarnya nggak ribet.

Kadang, cukup dimulai dari satu warung, sepiring nasi, dan niat yang nggak neko-neko.


Pewarta •Eko
Media iNet99.id

Breaking News Warung Mimi Encas Majalengka Jatiwangi News

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

Terkini