Idul Adha di Tengah Reruntuhan, Warga Gaza Salat di Puing Masjid dan Tenda Pengungsian
0 menit baca
Gaza, iNet99.id | Warga Palestina di Jalur Gaza menjalani Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah dalam suasana penuh duka dan keterbatasan. Di tengah agresi yang terus berlangsung, ribuan warga tetap menggelar salat Idul Adha di area reruntuhan bangunan, halaman masjid yang hancur, hingga tenda-tenda pengungsian.
Momen memilukan itu terlihat di sejumlah wilayah Gaza, termasuk di Kota Gaza dan Khan Yunis. Jamaah terlihat memadati area terbuka sambil membawa sajadah seadanya, dengan latar belakang puing-puing bangunan yang luluh lantak akibat serangan.
Di reruntuhan Masjid Al-Huda, Khan Yunis, warga tetap melaksanakan salat Idul Adha secara berjamaah. Sebagian besar bangunan masjid dilaporkan rusak parah, namun kondisi tersebut tidak menghentikan warga untuk menjalankan ibadah hari raya.
Suasana Idul Adha tahun ini jauh berbeda dibandingkan perayaan umat Muslim di berbagai negara lain. Tidak ada kemeriahan, pesta keluarga, maupun tradisi berbagi daging kurban yang biasa menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Adha.
Untuk tahun ketiga berturut-turut, warga Gaza dilaporkan tidak dapat melaksanakan penyembelihan hewan kurban secara normal. Blokade dan pembatasan akses masuk hewan ternak membuat pasokan sangat terbatas.
Selain sulitnya pasokan, harga daging dan hewan ternak di Gaza juga melonjak tajam. Kondisi ekonomi yang memburuk membuat sebagian besar warga tidak mampu membeli hewan kurban, bahkan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari pun sangat sulit.
Di sejumlah titik pengungsian, anak-anak terlihat tetap mengenakan pakaian seadanya saat mengikuti salat Id. Namun ekspresi mereka dipenuhi kesedihan karena harus merayakan hari raya di tengah situasi perang dan kehilangan anggota keluarga.
Krisis kemanusiaan di Gaza hingga kini masih menjadi sorotan dunia internasional. Ribuan keluarga kehilangan rumah akibat serangan yang menghancurkan kawasan permukiman dan fasilitas umum, termasuk tempat ibadah.
Tidak sedikit warga yang kini tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Akses terhadap makanan, air bersih, obat-obatan, dan listrik dilaporkan masih sangat minim di sejumlah wilayah.
Meski berada dalam tekanan dan ancaman, warga Palestina tetap berusaha mempertahankan tradisi keagamaan mereka. Salat Idul Adha tetap digelar sebagai simbol keteguhan iman dan harapan di tengah situasi sulit yang belum berakhir.
Sejumlah warga mengaku merindukan suasana Idul Adha seperti sebelum konflik berkepanjangan terjadi. Mereka berharap perang segera berhenti agar masyarakat Gaza bisa kembali hidup normal dan aman.
Organisasi kemanusiaan internasional sebelumnya juga telah memperingatkan memburuknya kondisi warga sipil di Gaza. Krisis pangan dan keterbatasan bantuan disebut semakin memperparah penderitaan masyarakat di wilayah tersebut.
Di tengah puing-puing dan suara duka yang menyelimuti Gaza, gema takbir Idul Adha tetap terdengar. Bagi warga Palestina, hari raya kali ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga simbol perjuangan untuk bertahan hidup di tengah konflik yang terus berlangsung.
(Red).
