Ricuh Usai Laga Malut United vs PSM Makassar, Wartawan Diintimidasi dan Diminta Hapus Video
0 menit baca
Maluku, iNet99.id - Sejumlah wartawan yang meliput pertandingan BRI Super League antara Malut United dan PSM Makassar di Stadion Gelora Kie Raha (GKR), Ternate, dilaporkan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang pria yang diduga merupakan official tim Malut United.
Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 23.05 WIT, tidak lama setelah pertandingan antara Malut United dan PSM Makassar berakhir. Situasi yang semula berjalan normal berubah tegang ketika salah satu wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate, Irwan Djailani alias Bradex, yang sedang mendokumentasikan perjalanan perangkat pertandingan usai laga didatangi oleh seorang pria yang kemudian melakukan intimidasi.
Saat itu, Bradex merekam aktivitas perangkat pertandingan yang berjalan menuju area ruang ganti setelah laga selesai. Namun, pria yang diduga official tim Malut United tersebut mendekati Bradex dan meminta agar video yang direkam segera dihapus.
Tak hanya itu, pria tersebut juga diduga melakukan tekanan dengan nada tinggi kepada wartawan tersebut.
“Kamu wartawan, kamu harus hapus video itu,” teriak pria tersebut sembari memprovokasi sejumlah suporter yang berada di sekitar lokasi.
Permintaan penghapusan rekaman video tersebut dinilai menjadi bentuk intervensi terhadap kerja jurnalistik. Pasalnya, dokumentasi yang dilakukan wartawan merupakan bagian dari tugas peliputan yang sah dalam kegiatan olahraga, terlebih para jurnalis yang berada di lokasi diketahui telah mengantongi ID Card resmi Super League.
Tidak berhenti sampai di situ, pria yang sama juga meminta kepada steward yang bertugas di stadion untuk mengusir sejumlah wartawan dari area tribun.
Permintaan tersebut membuat situasi di sekitar tribun sempat memanas karena para jurnalis merasa memiliki hak untuk tetap berada di area liputan sesuai dengan izin yang diberikan panitia penyelenggara.
Ketegangan juga terjadi di area dalam stadion. Oknum yang diduga berasal dari manajemen tim Malut United tersebut bahkan terlihat membuntuti wasit yang memimpin pertandingan hingga menuju ke area ruang ganti.
Setibanya di depan ruang ganti, pria tersebut dilaporkan beberapa kali menggedor pintu dengan keras. Ia juga melontarkan berbagai umpatan serta ancaman kepada wasit yang berada di dalam ruangan.
Tindakan tersebut membuat suasana di sekitar ruang ganti menjadi tidak kondusif. Para perangkat pertandingan memilih untuk tetap bertahan di dalam ruangan demi menghindari potensi konflik yang lebih besar dengan pihak di luar.
Akibat situasi tersebut, tim wasit terpaksa tertahan di dalam stadion selama kurang lebih satu setengah jam setelah pertandingan berakhir. Mereka tidak dapat segera meninggalkan area stadion karena kondisi di luar ruangan dinilai belum sepenuhnya aman.
Para wasit akhirnya baru dapat meninggalkan Stadion Gelora Kie Raha sekitar pukul 00.20 WIT. Hal itu dilakukan setelah pihak kepolisian bersama steward memastikan area stadion telah steril dari potensi intimidasi, baik yang berasal dari suporter maupun dari oknum official tim.
Peristiwa ini pun menjadi perhatian karena menyangkut keamanan kerja wartawan serta keselamatan perangkat pertandingan dalam sebuah kompetisi sepak bola profesional.
Sumber •Halmaherapost
