Inflasi Majalengka September 2026 Capai 2,76 Persen, Harga Beras hingga Emas Jadi Sorotan
0 menit baca

🔎 RINGKASAN INTI
• Inflasi Kabupaten Majalengka pada September 2026 mencapai 2,76 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y).
• Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil mencapai 0,90 persen.
• Beras, emas perhiasan, bensin, minyak goreng, telepon seluler, dan daging ayam ras menjadi komoditas yang turut mendorong inflasi.
• Inflasi bulanan tercatat 0,15 persen, sementara sejumlah komoditas seperti emas perhiasan memberikan sumbangan deflasi.
Majalengka, iNet99.id – Inflasi Kabupaten Majalengka pada September 2026 mencapai 2,76 persen secara tahunan atau year-on-year (y-on-y). Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 109,14 pada September 2025 menjadi 112,45 pada September 2026.
Kepala BPS Kabupaten Majalengka Yanti Heryanti mengatakan, perkembangan harga berbagai komoditas selama September 2026 secara umum menunjukkan kenaikan. Secara bulanan atau month-to-month (m-to-m), inflasi tercatat sebesar 0,15 persen.
"Inflasi sejak awal tahun atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,89 persen. Angka tersebut menggambarkan perubahan tingkat harga yang terjadi sepanjang Januari hingga September 2026," kata Yanti, Jumat (2/10/2026).
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan. Kelompok tersebut memberikan andil sebesar 0,90 persen terhadap inflasi y-on-y September 2026.
Kelompok transportasi menyusul dengan andil 0,48 persen. Berikutnya, perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,43 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,25 persen; serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,18 persen.
Penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,15 persen. Nilai yang sama berasal dari kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga.
Kelompok pakaian dan alas kaki menyumbang 0,12 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 0,07 persen, sedangkan kesehatan memberikan andil 0,03 persen. Kelompok pendidikan tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan.
Yanti mengatakan, sejumlah komoditas tercatat dominan memberikan sumbangan terhadap inflasi y-on-y. Daftar tersebut mencakup emas perhiasan, bensin, beras, telepon seluler, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, serta daging ayam ras.
Tekanan harga juga berasal dari kelompok hasil tembakau, seperti sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), dan sigaret kretek tangan (SKT).
Cabai rawit, kangkung, bayam, lemari pakaian, baju muslim wanita, makanan ringan, nasi dengan lauk, cabai merah, pisang, serta bawang putih turut tercatat sebagai komoditas penyumbang inflasi.
Namun, terdapat sejumlah komoditas yang memberikan sumbangan deflasi sehingga menahan laju inflasi.
"Ada beberapa komoditas yang menahan laju inflasi melalui sumbangan deflasi. Komoditas tersebut antara lain jengkol, telur ayam ras, jeruk, tomat, bawang merah, semangka, sabun mandi, salak, kopi bubuk, pepaya, daun bawang, celana panjang jeans pria, biskuit, mi kering instan, pembersih lantai, dan sabun mandi cair," kata Yanti.
Pada periode September 2026, beras menjadi salah satu komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi bulanan.
Selain beras, kenaikan harga juga tercatat pada cabai merah, pisang, cabai rawit, telepon seluler, telur ayam ras, kasur, sepatu anak, es krim, dan lemari pakaian.
Sebaliknya, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang memberikan sumbangan deflasi m-to-m.
Komoditas lain yang masuk daftar tersebut meliputi semangka, mentimun, jeruk, pepaya, bawang merah, tomat, celana panjang jeans pria, sandal karet wanita, kol putih atau kubis, bawang putih, apel, dan pir.
"Ini menunjukkan inflasi September 2026 terbentuk dari pergerakan harga pada berbagai kelompok pengeluaran. Secara tahunan, kenaikan IHK sebesar 2,76 persen menjadi gambaran perubahan harga konsumen dibandingkan periode yang sama pada 2025," katanya.
Editor: Andi
Sumber: IDN Times Jabar