Proyek Jalan Dibilang Asal Jadi? Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menghakimi
0 menit baca
![]() |
| poto Eko/iNet99.id |
Majalengka, iNet99.id - Belakangan ini, jagat media sosial di Majalengka lagi lumayan rame. Bukan soal drama seleb atau harga cabai, tapi soal proyek jalan. Ada yang bilang kualitasnya buruk, ada juga yang langsung vonis: “Ah, ini mah proyek asal jadi.”
Masalahnya, kita ini kadang terlalu pede menilai sesuatu yang sebenarnya nggak kita pahami sepenuhnya.
M.F. Rizki, seorang pemerhati kebijakan di Majalengka, coba ngasih perspektif yang jujur saja jarang dipakai dalam keributan semacam ini: perspektif teknis.
Lewat pesan WhatsApp, Kamis (16/4/2025), Rizki menjelaskan bahwa menilai proyek jalan itu nggak bisa cuma dari “kelihatannya”. Soalnya, konstruksi jalan bukan perkara estetika doang.
“Sering kali orang menilai dari visual saja, padahal ada tahapan teknis yang harus dilalui,” kira-kira begitu intinya.
Dan ya, ini masuk akal. Kita lihat jalan belum rapi sedikit, langsung mikir, “Wah ini mah jelek.” Padahal bisa jadi itu masih dalam masa pemeliharaan, alias belum final. Ibarat masak mie instan, belum matang tapi sudah dikomentari kurang gurih.
Lalu soal transparansi—ini juga sering jadi bahan bakar utama netizen. Semua ingin transparan, tapi nggak semua mau repot ngecek.
Menurut Rizki, sistem pengadaan proyek sekarang sebenarnya sudah cukup terbuka lewat e-katalog dan LPSE. Artinya, kalau memang niat cari tahu, datanya ada. Tinggal mau buka atau tidak.
Yang sering terjadi justru sebaliknya: opini duluan, data belakangan,kalau sempat.
Masalah lain yang cukup menggelitik adalah bagaimana isu proyek jalan ini dibungkus. Kadang terasa lebih seperti konten daripada informasi. Judulnya galak, isinya... ya, belum tentu sedalam itu.
Padahal, jalan yang lagi kita ributin ini bukan sekadar aspal dan beton. Ini soal akses, soal ekonomi, soal mobilitas warga sehari-hari.
Tapi ya itu tadi, diskusi serius sering kalah sama narasi yang lebih “menjual”.
Belum lagi faktor cuaca yang sering dilupakan. Dalam dunia konstruksi, hujan itu bukan cuma bikin malas keluar rumah, tapi juga bisa mengacaukan proses teknis seperti pengeringan material.
Jadi ketika proyek agak molor, belum tentu karena lalai. Bisa jadi karena memang tidak bisa dipaksakan.
“Kalau dipaksakan cepat, kualitasnya bisa turun,” kata Rizki.
Dan ini poin penting yang sering terlewat: kita lebih suka cepat daripada benar.
Di ujung semua ini, ada satu hal yang sering dilupakan: siapa sebenarnya yang berhak menilai sebuah proyek itu berhasil atau gagal?
Jawabannya bukan netizen, bukan juga komentar viral. Tapi auditor resmi seperti BPK atau inspektorat.
Artinya, sebelum vonis dijatuhkan, sebenarnya ada mekanisme yang memang disiapkan untuk menilai secara objektif.
Mungkin, yang perlu kita lakukan sekarang bukan sekadar ikut ramai, tapi mulai belajar membedakan mana opini, mana data.
Karena kalau semua hal dinilai cuma dari “katanya”, ya wajar kalau yang berkembang bukan pemahaman,tapi prasangka.
Pewarta •Eko
Media iNet99.id
