Mahasiswa Hukum Diperkosa Bergiliran di Kolkata, Diberi Inhaler agar Bisa Disiksa Lagi
![]() |
| Ketiga pria yang dituduh memperkosa mahasiswa hukum berusia 24 tahun pada tanggal 25 Juni telah ditahan polisi hingga tanggal 8 Juli.(ANI) |
INET99.ID – Kolkata, India – Kasus pemerkosaan bergiliran terhadap seorang mahasiswa hukum berusia 24 tahun di South Calcutta Law College mengejutkan publik India. Fakta mengejutkan terungkap dalam persidangan, termasuk perlakuan kejam pelaku yang memberikan inhaler kepada korban agar bisa kembali melanjutkan kekerasan seksual terhadapnya.
Inhaler Diberikan Agar Penyerangan Bisa Dilanjutkan
Jaksa penuntut umum Sourin Ghosal mengungkap bahwa korban mengalami serangan panik dan kesulitan bernapas saat diserang oleh tiga pelaku. Bukannya menyelamatkan korban, salah satu terdakwa justru menyuruh rekannya membeli inhaler agar korban cukup stabil untuk kembali disiksa.
“Ketika korban mengalami serangan panik dan tidak dapat bernapas, para terdakwa malah memberinya inhaler agar mereka dapat menyiksanya lagi,” ujar Ghosal di hadapan pengadilan kota, Selasa (1/7/2025).
Kronologi dan Peran Para Pelaku
Peristiwa mengenaskan itu terjadi pada 25 Juni di lingkungan kampus South Calcutta Law College. Terdakwa utama, Monojit Mishra, adalah staf sementara dan mantan mahasiswa kampus tersebut. Ia menyuruh dua terdakwa lain, Zaib Ahmed dan Pramit Mukherjee, untuk mengambil inhaler dari apotek terdekat setelah korban meminta pertolongan karena merasa sesak napas.
“Saya meminta mereka untuk membawa saya ke rumah sakit, tapi mereka menolak. Sebaliknya, mereka membawa inhaler,” kata korban dalam pengaduannya.
Polisi memastikan bahwa inhaler tersebut dibeli oleh Ahmed dari apotek dekat kampus. Mereka menyita tanda terima pembayaran senilai ₹350 yang dilakukan melalui UPI, yang menguatkan kesaksian korban.
Bukti Kuat, Keempat Pelaku Ditahan
Ketiga pelaku utama telah dikirim ke tahanan polisi hingga 8 Juli 2025. Selain mereka, seorang penjaga keamanan kampus bernama Pinaki Bandyopadhyay juga ditangkap karena diduga membiarkan kejahatan itu terjadi tanpa melapor atau bertindak.
Wakil kepala kampus, Nayna Chatterji, menyatakan bahwa Mishra telah diberhentikan, dan Ahmed serta Mukherjee diusir dari kampus. Penegasan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemulihan integritas lembaga dan dukungan terhadap korban.
Bukti Digital dan Medis Mendukung Korban
Menurut kepolisian, berbagai bukti telah dikumpulkan dan mendukung pengaduan korban. Termasuk di dalamnya adalah jejak digital, hasil tes medis, serta rekonstruksi tempat kejadian perkara.
Kasus ini mengundang kemarahan publik dan menjadi sorotan tajam di India, terutama karena pelaku adalah bagian dari institusi pendidikan hukum. Tekanan publik terhadap pihak kampus dan aparat penegak hukum pun meningkat, agar keadilan ditegakkan secara tegas.
➢Sumber hindustantimes
