Rumah Founder GIE di Bandung Dibakar Molotov, Desta Duga Ada Motif Politik
0 menit baca
![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Bandung, iNET99.id - Sebuah ruko yang difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga Desta Pancaputra, pendiri Gerakan Indonesia Emas (GIE), di kawasan Ranca Tungku, Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, menjadi sasaran dugaan pembakaran menggunakan bom molotov pada Minggu dini hari (18/10). Atas kejadian ini, Desta meyakini kuat adanya motif politik di baliknya.
Akibat teror tersebut, sejumlah perabotan rumah tangga seperti kursi hingga pakaian ludes dilalap api, sementara kaca pintu hancur berkeping-keping. Aparat kepolisian juga menemukan dua botol yang diduga kuat dipakai sebagai sarana bom molotov di TKP.
Insiden tersebut pertama kali terungkap sekitar pukul 03.45 WIB saat sang nenek berteriak memanggil namanya. Sontak, Desta bergegas keluar untuk memeriksa keadaan keluarganya.
"Nenek saya berteriak, 'Desta, Desta!' Terus saya keluar rumah. Setelah itu saya nanya ada apa, ternyata ada kebakaran," ujar Desta pada Kamis (22/10).
Meski sempat diselimuti kepanikan hebat saat mengetahui kediaman keluarganya terbakar, ia mendapati api ternyata sudah berhasil dipadamkan berkat pertolongan warga sekitar setibanya di lokasi.
"Saya betul-betul tidak bisa positive thinking. Yang ada di dalam benak saya, rumah nenek saya sudah betul-betul hangus terbakar," kenangnya.
Berdasarkan keterangan Desta, peristiwa ini bermula ketika seorang penjual ayam potong yang hendak ke pasar melintas dan melihat sebuah sepeda motor ditumpangi dua orang di dekat lokasi kejadian. Rekaman kamera pengawas (CCTV) di beberapa titik sekitar TKP pun membenarkan adanya kendaraan bermotor yang dikendarai dua orang pada jam tersebut, meski identitas dan keterlibatan mereka masih harus dibuktikan lewat penyelidikan.
Terkait alat yang dipakai pelaku, Desta menduga kuat menggunakan bom molotov setelah melihat langsung dua botol rakitan yang telah diamankan pihak berwenang.
"Ditemukan dua botol yang betul-betul dirakit persis sekali seperti bom molotov, dan dugaan saya betul-betul kuat, itu alat yang digunakan adalah bom molotov," ucapnya.
Baginya, kerugian materiil bukanlah hal yang paling dicemaskan. Desta justru merasa sangat khawatir dengan kondisi psikologis serta trauma mendalam yang kini menghantui kakek dan neneknya.
"Kerugian bagi saya pribadi yang paling besar tentu adalah rasa traumatik yang entah akan sembuh kapan, yang terjadi bagi orang tua saya, terutama kakek dan juga nenek saya," tuturnya.
Teror pembakaran ini ternyata bukan yang pertama kalinya menimpa keluarga besar Desta. Sekitar sepuluh hari sebelumnya, paman beliau juga diduga mengalami teror serupa oleh orang tak dikenal dengan modus yang hampir identik. Rentetan kejadian tersebut membuat Desta menyimpulkan bahwa keluarganya sedang dijadikan target teror politik.
"Tidak ada pihak yang spesifik yang bisa saya sebutkan, tapi saya meyakini betul dugaan saya ini karena alasan politis," ungkapnya.
Desta menduga kuat aksi teror ini berkaitan erat dengan sikap kritisnya beserta GIE dalam menyuarakan berbagai persoalan dan keresahan masyarakat di Kabupaten Bandung. Kendati demikian, pihak kepolisian menyatakan bahwa dugaan motif politik ini masih sebatas klaim korban dan proses penyelidikan masih berjalan.
Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi teror susulan, pihak keluarga berniat meningkatkan keamanan, bahkan Desta berencana membawa kakek dan neneknya untuk tinggal sementara bersamanya.
Di sisi lain, jajaran Polsek Pameungpeuk bersama Tim Inafis Polresta Bandung telah merampungkan olah TKP dan mengamankan berbagai barang bukti. Kapolsek Pameungpeuk, AKP Saep Balya, menyampaikan bahwa laporan resmi telah diterima dan kasusnya kini berstatus dalam tahap penyelidikan lanjutan, termasuk pemeriksaan saksi-saksi.
"Sementara masih tahap penyelidikan. Kemarin kita sudah melakukan cek TKP dan olah TKP, kebetulan kita bersama dari Inafis Polres juga," jelas Saep via pesan singkat.
Menanggapi insiden ini, Desta berharap aparat bisa segera mengungkap pelakunya, seraya berpesan agar perbedaan pandangan serta kritik terhadap kebijakan tidak pernah dibalas dengan aksi kekerasan.
"Saya menginginkan sebuah perubahan untuk kemajuan daerah ataupun pusat. Itu sebetulnya yang saya inginkan," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kritik yang selama ini digaungkan murni wujud kepedulian sosial terhadap masyarakat luas, sehingga pihak yang merasa keberatan diimbau untuk meresponsnya melalui jalur yang wajar.
Sebagai informasi, Desta Pancaputra (Panca) dikenal sebagai figur pemuda Kabupaten Bandung sekaligus founder Gerakan Indonesia Emas (GIE). Organisasi kepemudaan ini aktif menyoroti isu-isu krusial mulai dari kebijakan daerah, tata kelola pemerintahan, lingkungan, hingga tingkat nasional. Selain aktif mengkritisi kebijakan, GIE juga rutin menggelar kegiatan sosial seperti donasi makanan dan pakaian bagi warga kurang mampu, serta menjadi wadah diskusi dan aksi positif bagi generasi muda setempat.
