ADVERTISEMENT
Iklan

Darurat Karhutla, Palembang Nyaris Tiga Bulan Dikepung Asap Pekat hingga Kualitas Udara Masuk Level Berbahaya

Foto: ilustrasi

Palembang, iNET99.id - Sumatera Selatan, kembali menghadapi ujian berat akibat bencana kabut asap pekat yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan terakhir. Krisis lingkungan ini dipicu oleh masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar, terutama dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan daerah-daerah tetangga lainnya.


Lonjakan Polusi Udara ke Level Ekstrem

Berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta instansi terkait, konsentrasi partikulat halus di udara Palembang melonjak drastis dan berada pada kategori berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berbahaya PM2.5 bahkan sempat mencatat angka ekstrem hingga menembus 1.036 pada waktu subuh, sementara indeks kualitas udara (Air Quality Index / AQI) dilaporkan sempat melampaui angka 1.500.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa asap pekat yang terus menerus mengepung Palembang sangat dipengaruhi oleh arah tiupan angin yang membawa partikel sisa pembakaran dari wilayah timur dan tenggara.

“Asap masih bersumber dari karhutla yang ada di wilayah OKI dan sekitarnya. Masyarakat tetap diimbau menggunakan masker untuk mengurangi dampak terpapar asap secara langsung dan mengurangi aktivitas luar ruangan,” ujar Wandayantolis.


Fenomena Meteorologi dan Karakteristik Gambut

Selain faktor tiupan angin dari pusat titik panas (hotspot), BMKG mengungkapkan bahwa kondisi atmosfer turut memperparah ketahanan kabut asap di wilayah perkotaan. Tingkat kelembapan udara yang tinggi pada pagi hari (mencapai kisaran 95 persen) memicu terbentuknya kabut air yang kemudian bercampur dengan polutan asap karhutla.

Selain itu, fenomena inversi atmosfer yang terjadi di dekat permukaan tanah membuat lapisan udara terjebak, sehingga partikel asap sulit terdispersi dan bertahan jauh lebih lama di langit Palembang. Sebagian besar wilayah sumber kebakaran sendiri berada di atas ekosistem lahan gambut, yang membuat proses pemadaman menjadi sangat sulit dan memerlukan curah hujan lebat secara merata dalam jangka waktu yang panjang.


Dampak Sosial dan Kesehatan Warga

Paparan kabut asap yang telah memasuki bulan ketiga ini telah memicu keresahan luas di tengah masyarakat. Warga mengeluhkan langit Palembang yang sering kali tampak gelap dan minimnya sinar matahari langsung, sementara udara terasa begitu menyesakkan.

“Kondisi sekarang masih parah banget, asapnya pekat, cuaca panas, dan banyak warga sekitar sini yang mulai sakit-sakitan gara-gara batuk serta sesak napas,” ungkap Aziz, salah seorang warga Kota Palembang.

Dinas Kesehatan mencatat adanya lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang signifikan. Para ahli kesehatan, termasuk dokter spesialis penyakit tropik dan infeksi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, dr. Harun Hudari, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan proteksi diri secara maksimal.

“AQI 400 saja sudah berbahaya, apalagi kalau sudah di atas 1.000. Ini sangat berbahaya dan masyarakat harus tetap waspada dengan menggunakan masker dan upayakan tetap berada di dalam ruangan,” tegas Harun.


Upaya Penanganan Pemerintah

Pemerintah pusat dan daerah terus berjibaku menanggulangi krisis ini. Berbagai langkah taktis telah dikerahkan, mulai dari operasi pemadaman darat oleh Manggala Agni, penyaluran ribuan masker gratis kepada masyarakat, hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan metode penyemaian es kering (dry ice) untuk memulihkan jarak pandang dan mengurangi konsentrasi polutan.

Di sisi penegakan hukum, aparat kepolisian (Polda Sumsel) juga bertindak tegas dengan menyegel sejumlah area konsesi serta menyelidiki pihak korporasi yang lahan usahanya terindikasi mengalami kebakaran berulang. Kendati demikian, berbagai pihak berharap penanganan jangka panjang dan penegakan hukum yang lebih ketat dapat segera mengakhiri penderitaan warga akibat bencana tahunan ini.

(pwr/as)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

Terkini