Viral Dugaan Penganiayaan Sekpri Wabup Sumedang, Dedi Mulyadi Bentuk Tim Investigasi Independen
0 menit baca
SUMEDANG, iNet99.id – Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat mengusut dugaan penganiayaan yang melibatkan sekretaris pribadi (sekpri) Wakil Bupati Sumedang.
Untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar di masyarakat, Pemprov Jabar resmi membentuk tim investigasi independen.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa tim investigasi akan memeriksa langsung Wakil Bupati Sumedang.
Langkah ini diambil agar kasus tersebut terang benderang dan terbebas dari spekulasi publik.
"Hari ini Pemprov Jabar membentuk tim investigasi untuk memeriksa Wakil Bupati Sumedang. Kami ingin peristiwa ini tersaji secara objektif, bukan berlandaskan opini atau asumsi," tegas Dedi.Dikutip dari Delikjabar.com
Dedi mengimbau publik dan media untuk menahan diri serta tidak membangun narasi liar sebelum investigasi selesai.
"Kami minta semua pihak bersabar dan tidak menyebarkan opini hingga hasil resmi investigasi disampaikan," pungkasnya.
Sebelumnya, kasus dugaan tindak pidana kekerasan seksual, pengeroyokan, penyekapan, hingga intimidasi yang melibatkan jajaran pejabat publik menggemparkan Kabupaten Sumedang.
Berdasarkan dokumen hasil konsultasi masyarakat tertanggal 21 Agustus 2026, seorang tenaga honorer berinisial RY yang bertugas sebagai Sekretaris Pribadi Sekpri Wakil Bupati Sumedang, melaporkan menjadi korban.
Peristiwa itu disebut terjadi di Rumah Dinas Wakil Bupati Sumedang pada Minggu, 17 Agustus 2026.
Dalam laporan tersebut turut disebut nama Wakil Bupati Sumedang berinisial MFA, istrinya berinisial ADO, seorang Anggota DPR RI Fraksi PAN Komisi I berinisial FPN yang disebut kerabat MFA, serta anggota Polri berinisial T yang disebut sebagai ajudan.
Menurut laporan tersebut, peristiwa bermula sekitar pukul 12.00 WIB, usai Upacara HUT RI ke-81. RY diperintah MFA datang ke rumah dinas untuk mengambil uang operasional di brankas kamar.
Saat menghitung uang, RY mengaku dipeluk dari depan dan dicium pipinya oleh MFA tanpa persetujuan. MFA disebut melontarkan kalimat “mumpung tidak ada ibu”. RY langsung melepaskan diri dan pulang sekitar pukul 13.00 WIB.
Malam harinya sekitar pukul 18.30 WIB, RY dihubungi ADO via WhatsApp dan diminta datang ke rumah dinas. Sekitar pukul 19.30 WIB, RY tiba dan diarahkan masuk ke ruang rapat oleh ajudan berinisial K.
Di dalam ruangan, RY diduga ditarik dan didudukkan paksa di sofa. Berikutnya RY mengaku dianiaya secara bergantian. Ia dipukul dengan tangan kosong, asbak melamin, dan toples kaca ke bagian kepala dan dahi.
RY juga mengaku dicekik oleh FPN dan ditendang di pinggang kiri. Kedua jempol dan telunjuk tangannya kemudian diikat dengan tali plastik oleh T.
Saat itu para terlapor diduga melontarkan intimidasi: “Ada hubungan apa kamu dengan Sdr. MFA? Saya sudah lihat rekaman CCTV. Mau saya sebarkan?”
HP milik RY juga diduga diambil paksa oleh FPN. Ketika RY meminta dikembalikan, FPN disebut berjanji akan menggantinya dengan HP baru.
RY mengaku diancam tidak boleh bercerita dan akan “diviralkan” serta “dimutasi” jika buka suara. RY baru diperbolehkan pulang sekitar pukul 22.00 WIB.
Setiba di rumah, RY menceritakan kejadian itu ke keluarga. Sekitar pukul 23.00 WIB, RY dibawa ke RSUD Sumedang untuk mendapat perawatan.
Kini, Pemprov Jabar membentuk tim investigasi independen untuk memastikan informasi mengenai kasus tersebut dapat diperiksa secara objektif. Hasil investigasi diharapkan dapat memberikan gambaran yang terang mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi. Sumber sinarsuryanews.com
Editor : Andi
