BREAKING NEWS

Kirab Persib vs Kirab Binokasih: Antara Ekspresi Kolektif dan Simbolisme Politik


Oleh: Dian Rahadian

Di Jawa Barat, pesta rakyat selalu memiliki ruang tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Ketika ribuan bahkan jutaan orang turun ke jalan, memenuhi pusat kota, membawa simbol, warna, dan semangat bersama, maka yang hadir bukan sekadar keramaian biasa. Ada emosi kolektif, ada identitas, ada rasa memiliki yang tumbuh secara alami dari masyarakat itu sendiri.

Fenomena itu terlihat jelas dalam dua momentum besar yang sama-sama disebut sebagai kirab rakyat di tanah Sunda, yakni kirab kemenangan Persib Bandung dan Kirab Binokasih. Keduanya sama-sama meriah, sama-sama menyedot perhatian publik, dan sama-sama berlangsung di wilayah Jawa Barat. Namun jika dilihat lebih dalam, keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar, terutama dalam hal makna, kesadaran kolektif, dan hubungan emosional dengan masyarakat.

Kirab Persib lahir dari ekspresi kecintaan tulus masyarakat Jawa Barat terhadap klub sepak bola yang mereka cintai. Kemenangan Persib sebagai juara untuk ketiga kalinya menjadi momentum emosional yang tidak dibuat-buat. Tidak ada rekayasa perasaan, tidak ada mobilisasi simbolik yang dipaksakan. Semua hadir secara alami dari hati masyarakat.

Masyarakat turun ke jalan bukan karena undangan formal, bukan karena kepentingan politik, dan bukan karena dorongan pencitraan. Mereka hadir karena merasa memiliki Persib sebagai bagian dari identitas budaya dan emosional masyarakat Sunda. Dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga para lansia, semua larut dalam euforia kemenangan tersebut.

Yang menarik, kirab Persib juga melampaui batas sosial. Tidak ada sekat antara menak dan cacah, tidak ada batas keyakinan, ideologi, maupun status ekonomi. Semua melebur menjadi satu dalam warna biru kebanggaan. Inilah bentuk nyata dari kesadaran kolektif yang tumbuh organik di tengah masyarakat Jawa Barat.

Bandung memang menjadi titik kumpul terbesar dalam kirab Persib, tetapi semangatnya terasa hingga berbagai daerah di Jawa Barat. Dari kota hingga pelosok kampung, masyarakat ikut merayakan kemenangan itu dengan cara mereka masing-masing. Ada yang konvoi, ada yang menggelar nonton bareng, ada pula yang sekadar mengenakan atribut Persib sebagai simbol kebanggaan bersama.

Dalam konteks sosial, kirab Persib bukan sekadar parade kemenangan olahraga. Ia telah menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat Jawa Barat modern. Sebuah pesta rakyat yang lahir dari rasa cinta dan solidaritas yang nyata.

Menurut Budayawan Jawa Barat sekaligus Ketua Umum LPP GPK, Dian Rahadian, “Kirab Persib lahir dari rasa memiliki masyarakat terhadap simbol yang memang hidup bersama mereka selama puluhan tahun. Karena itu ekspresinya tidak dibuat-buat dan tidak perlu digerakkan oleh kepentingan tertentu.”


Berbeda halnya dengan Kirab Binokasih.

Meski dikemas dengan nama besar “Milangkala Tatar Sunda”, namun dalam pandangan banyak masyarakat, kirab tersebut belum mampu menghadirkan rasa kepemilikan kolektif sebagaimana yang terjadi pada kirab Persib. Nuansa yang muncul justru lebih terasa sebagai perayaan Sumedang dan momentum politik figur tertentu dibandingkan representasi masyarakat Sunda secara luas.

Padahal jika berbicara tentang Tatar Sunda, cakupannya sangat besar. Tatar Sunda bukan hanya Sumedang, bukan pula milik satu kelompok atau satu tokoh tertentu. Tatar Sunda mencakup identitas budaya yang hidup di berbagai wilayah Jawa Barat dengan keberagaman karakter masyarakatnya.

Namun dalam pelaksanaannya, Kirab Binokasih dinilai belum mampu menjangkau kesadaran emosional masyarakat Sunda secara menyeluruh. Acara tersebut lebih terlihat sebagai tontonan simbolik dibandingkan pesta rakyat yang tumbuh dari bawah.

Di mata sebagian masyarakat, kirab tersebut terasa kental dengan nuansa politik. Simbol budaya yang seharusnya menjadi ruang pemersatu justru dianggap terlalu dekat dengan kepentingan pencitraan kekuasaan dan figur tertentu. Karena itulah, ekspresi yang muncul dari masyarakat tidak sepenuhnya lahir secara spontan.

Berbeda dengan kirab Persib yang bergerak secara alami tanpa perlu konsep besar, Kirab Binokasih justru terlihat sangat formal, penuh simbol seremoni, dan sarat konstruksi pencitraan. Masyarakat hadir lebih banyak sebagai penonton, bukan sebagai bagian dari energi utama acara.

Hal inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa Kirab Binokasih lebih menyerupai “tontonan raja-rajaan” atau “rarajaan”. Simbol-simbol kebesaran ditampilkan secara dominan, tetapi belum sepenuhnya menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat Sunda hari ini.

"kirab BINOKASIH hanya sebagai tontonan Kesumedangan dan KDM saja". Ujar Dian Rahadian.

"Sehingga acara kirab itu merupakan tontonan RAJA RAJA AN, atau RARAJAAN." tambahnya.

Dalam realitas sosial, masyarakat sebenarnya bisa membedakan mana ekspresi yang lahir dari hati dan mana ekspresi yang dibangun melalui konstruksi simbolik. Kesadaran kolektif tidak bisa dipaksa, tidak bisa direkayasa, dan tidak bisa dimanipulasi hanya dengan kemasan budaya atau seremoni besar.

“Budaya tidak akan pernah hidup hanya lewat simbol dan seremoni. Budaya akan hidup ketika masyarakat merasa memiliki dan menjadi bagian dari nilai yang dirayakan,” ujar Dian Rahadian.

Kesadaran kolektif tumbuh ketika masyarakat merasa memiliki hubungan emosional yang nyata dengan sebuah peristiwa. Itulah yang terjadi pada Persib. Klub sepak bola tersebut telah hidup puluhan tahun bersama masyarakat Jawa Barat. Persib menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, menjadi simbol kebanggaan, bahkan menjadi identitas lintas generasi.

Sementara itu, Kirab Binokasih masih menghadapi tantangan besar untuk bisa diterima sebagai milik bersama masyarakat Sunda secara luas. Ketika sebuah acara budaya terlalu dekat dengan kepentingan politik atau simbol elit tertentu, maka jarak dengan masyarakat akan semakin terasa.

Budaya seharusnya menjadi ruang pemersatu, bukan sekadar panggung simbolik. Budaya harus hidup bersama rakyat, tumbuh dari denyut masyarakat, dan menghadirkan rasa memiliki yang nyata. Jika budaya hanya menjadi alat pencitraan, maka yang muncul hanyalah keramaian sesaat tanpa ruh kolektif yang mendalam.

Pada akhirnya, masyarakat Jawa Barat memiliki penilaian sendiri terhadap dua kirab tersebut. Kirab Persib dipandang sebagai pesta rakyat yang lahir dari cinta dan kebanggaan alami masyarakat. Sedangkan Kirab Binokasih, meski membawa simbol budaya besar, masih dianggap belum mencapai tahap kesadaran kolektif masyarakat Sunda secara menyeluruh.

Karena pada dasarnya, ekspresi rakyat tidak bisa dipalsukan.

Masyarakat mungkin bisa hadir karena seremoni, bisa datang karena rasa penasaran, atau ikut karena momentum. Tetapi kesadaran kolektif yang sejati hanya lahir dari keterikatan emosional yang tulus.

Dan publik tidak pernah bisa ditipu antara ekspresi kesadaran kolektif dengan kesadaran yang manipulatif.***


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

💛 Dukung Jurnalisme Independen

Besar kecilnya dukungan Anda sangat berarti bagi kami. Terima kasih.

Terkini