Pohon Ditebang, Warga Ikut Bergerak. Ada Apa?
Bandung iNet99.id – Penebangan sekitar enam hingga tujuh pohon di wilayah Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung Minggu (19/7/2026) sempat menjadi perhatian. Terlebih, kegiatan tersebut dilakukan saat kondisi kemarau dan ketika kepedulian terhadap lingkungan terus menjadi perhatian masyarakat.
Namun setelah ditelusuri, pohon tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan kayu pembangunan rumah seorang warga yang sedang diperbaiki melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Kayu tersebut diperuntukkan bagi pembangunan rumah Mak Epon, warga Kampung Papak Manggu, Desa Cibodas, yang masih membutuhkan tambahan bahan bangunan.
Koswara yang di ketahu Ustadz dan Ketua DKM di mesjid Nurul Iman kampung papak manggu, saat di temui dilokasi penebangan menjelaskan, bantuan material yang tersedia belum mencukupi. Karena itu, masyarakat meminta bantuan kepada Eyang Memet untuk menyediakan kebutuhan kayu.
Menurut Koswara, sebelum pohon dimanfaatkan, terlebih dahulu dilakukan komunikasi bersama DKM, Ikatan Remaja Masjid (IRMAS), Karang Taruna Papak Manggu, serta warga. Setelah ada kesepakatan, masyarakat bersama-sama melakukan penebangan, mengangkut kayu, hingga membawanya ke lokasi pembangunan rumah.
![]() |
| Saat warga memikul kayu hasil pemanfaatan pohon untuk pembangunan rumah. |
Keterangan tersebut dibenarkan Ketua Karang Taruna Papak Manggu, Nendi Rustiandi. Ia mengatakan, para pemuda ikut terlibat bersama warga dalam proses tersebut.
Hal serupa disampaikan Ketua RT 03 RW 14, Teten Haryanto. Menurutnya, kayu hasil pemanfaatan pohon memang digunakan untuk pembangunan rumah Mak Epon dan prosesnya berjalan melalui gotong royong masyarakat.
Untuk mengetahui alasan pemanfaatan pohon tersebut, keterangan kemudian dikonfirmasi kepada Ketua Yayasan Panata Giri Raharja, Memet Achmad Surachman atau Eyang Memet. Ia ditemui di lokasi pembibitan pohon yang dikelolanya.
![]() |
| Eyang Memet di lokasi pembibitan pohon saat memberikan keterangan |
Eyang Memet membenarkan sekitar enam hingga tujuh pohon dimanfaatkan setelah melalui komunikasi dengan masyarakat, DKM, dan Karang Taruna.
"Orang sudah mulai kritis ketika melihat ada penebangan pohon tanpa tujuan," ujar Eyang Memet.
Menurutnya, sikap kritis masyarakat terhadap penebangan pohon merupakan hal yang wajar. Setiap pemanfaatan pohon harus memiliki alasan yang jelas.
Ia menjelaskan, pohon yang dimanfaatkan berasal dari lahan Desa Cibodas yang sebelumnya telah ditanam dan dirawat. Menurutnya, pohon tidak hanya berfungsi menjaga lingkungan, tetapi juga dapat memberi manfaat ketika masyarakat menghadapi kebutuhan yang mendesak.
Eyang Memet menegaskan, pemanfaatan pohon tetap harus disertai tanggung jawab. Setelah sekitar tujuh pohon digunakan, kami berkomitmen menanam sekitar 70 pohon pada musim penghujan mendatang.*


