BREAKING NEWS

Eskalasi Konflik: AS dan Israel Serang Iran, Perang Terbuka Memasuki Hari Kedua

IRAN, iNet99.id - Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan ini, yang digambarkan sebagai respons terhadap ancaman berkelanjutan dari Teheran, telah memicu perang terbuka yang kini memasuki hari kedua. Presiden AS Donald Trump, yang baru saja terpilih kembali, menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk "menghancurkan kemampuan Iran dalam mengancam sekutu kita." Namun, serangan ini telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan dan kekacauan regional, dengan potensi eskalasi menjadi konflik global.

Kronologi peristiwa dimulai pada akhir pekan lalu ketika jet tempur AS dan Israel menargetkan fasilitas militer utama di Iran. Menurut laporan dari media internasional seperti CNN dan Al Jazeera, serangan udara ini difokuskan pada situs rudal, pangkalan militer, dan markas pemimpin senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Yang paling mengejutkan adalah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dikonfirmasi oleh media negara Iran dan diumumkan langsung oleh Trump melalui platform X (sebelumnya Twitter). Trump menyebut Khamenei sebagai "ancaman utama bagi perdamaian dunia" dan mengklaim bahwa serangan tersebut juga menewaskan hingga 40 pejabat tinggi IRGC dalam satu gelombang bom presisi.



Respons Iran tidak menunggu lama. Pada hari yang sama, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal balistik yang menargetkan berbagai lokasi strategis. Kota-kota utama di Israel seperti Tel Aviv dan Yerusalem menjadi sasaran, dengan ledakan yang memicu sirene peringatan dan kepanikan di kalangan warga sipil. Rudal juga menghantam pangkalan militer AS di Irak, Suriah, dan wilayah Teluk Persia. IRGC mengklaim telah menyerang kapal induk USS Abraham Lincoln dengan empat rudal hipersonik, meskipun klaim ini belum diverifikasi secara independen oleh Pentagon. Selain itu, beberapa negara Teluk seperti Uni Emirat Arab (UAE) melaporkan dampak serangan, termasuk kerusakan pada infrastruktur sipil.

Memasuki hari kedua pada 1 Maret 2026, Israel melanjutkan operasi dengan gelombang serangan baru yang menargetkan "jantung Teheran." Gambar satelit dan video dari warga menunjukkan kolom asap tebal membubung di atas ibu kota Iran, disertai ledakan beruntun yang menghancurkan gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas militer. Trump, dalam konferensi pers darurat di Gedung Putih, menyatakan bahwa operasi ini akan berlanjut sepanjang minggu atau lebih jika diperlukan. Ia memperingatkan Iran dengan tegas: "Jika mereka terus membalas, kami akan merespons dengan kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya." Trump juga mendesak rakyat Iran untuk "mengambil kembali negara mereka," yang menimbulkan spekulasi tentang agenda perubahan rezim (regime change) yang lebih luas.

Dampak kemanusiaan dari konflik ini sangat tragis. Estimasi korban jiwa sementara menunjukkan lebih dari 200 orang tewas di Iran, termasuk klaim mengerikan bahwa lebih dari 100 anak sekolah menjadi korban dalam serangan dekat basis militer. Di Israel, setidaknya 9-10 orang tewas dan lebih dari 120 luka-luka akibat rudal Iran. AS mencatat korban pertamanya dengan tiga tentara tewas dan beberapa luka di pangkalan mereka. Di wilayah lain seperti UAE, korban sipil dilaporkan akibat serangan sampingan, dengan bandara Dubai mengalami gangguan operasional dan pengiriman minyak global terganggu. Harga minyak dunia melonjak tajam karena ancaman penutupan Selat Hormuz, yang mengancam pasokan energi global dan berpotensi memicu resesi ekonomi.

Reaksi internasional terhadap konflik ini bercampur aduk. Di Pakistan, protes besar-besaran meletus, dengan massa menyerang konsulat AS di Karachi sebagai bentuk solidaritas dengan Iran. Negara-negara Muslim seperti Turki dan Qatar mengecam serangan AS-Israel sebagai "agresi terhadap umat Islam." Sementara itu, sekutu Barat seperti Inggris dan Prancis mendukung operasi tersebut sebagai "tindakan defensif," meskipun ada kekhawatiran tentang eskalasi. PBB telah memanggil sidang darurat Dewan Keamanan, tetapi veto potensial dari AS kemungkinan besar akan menghalangi resolusi apa pun.

Di Iran sendiri, kematian Khamenei telah menciptakan vakum kepemimpinan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah Iran segera membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk mengisi kekosongan tersebut, dengan fokus pada pertahanan nasional. Media negara Iran menyebut serangan ini sebagai "pernyataan perang terbuka terhadap umat Muslim" dan bersumpah untuk melakukan operasi paling menghancurkan terhadap basis AS dan Israel. Analis militer memperkirakan bahwa Iran mungkin mengerahkan proxy-nya seperti Houthi di Yaman atau Hizbullah di Lebanon untuk memperluas front perang.

Konflik ini juga memiliki implikasi geopolitik yang lebih luas. Dengan keterlibatan AS di bawah kepemimpinan Trump, yang dikenal dengan pendekatan "America First" yang agresif, ada kekhawatiran bahwa Rusia atau China bisa ikut campur untuk mendukung Iran. Rusia, misalnya, telah menyediakan sistem pertahanan udara S-400 ke Teheran, yang mungkin telah gagal mencegah serangan awal. Sementara itu, harga minyak yang melonjak bisa menguntungkan produsen seperti Arab Saudi, tetapi juga memukul ekonomi negara berkembang seperti Indonesia, yang bergantung pada impor energi.

Trump menyebut konflik ini sebagai "kesempatan terbesar" bagi rakyat Iran untuk mengganti rezim mereka, menggemakan retorika perubahan rezim yang mirip dengan invasi Irak pada 2003. Namun, kritikus di AS, termasuk Partai Demokrat, menuduh Trump memanfaatkan situasi untuk mengalihkan perhatian dari isu domestik pasca-pemilu. Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membela serangan sebagai "langkah preventif" terhadap program nuklir Iran, meskipun IAEA belum menemukan bukti pelanggaran baru.

Situasi ini berkembang sangat cepat, dengan ledakan dilaporkan di berbagai negara Timur Tengah dan gangguan pada bandara serta pelabuhan. Kawasan tersebut kini berada di ambang chaos total, dengan potensi perang regional yang lebih luas melibatkan lebih banyak aktor. Warga sipil di seluruh wilayah diimbau untuk tetap waspada, sementara komunitas internasional berharap diplomasi bisa mencegah bencana lebih besar. Hingga malam ini (1 Maret 2026, pukul 22:54 WIB), tidak ada tanda-tanda gencatan senjata, dan dunia menunggu langkah selanjutnya dari para pemimpin yang terlibat.

(Artikel ini disusun berdasarkan laporan terkini dari berbagai sumber internasional. Total kata: sekitar 620. Situasi dapat berubah sewaktu-waktu.)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

Terkini