Sawala Gunung Sasadu: Jika Gunung Sadu Hilang, Apa Dampaknya Bagi Kehidupan?
0 menit baca
Soreang, iNet99.id — Sejumlah tokoh budaya, akademisi, dan praktisi kebudayaan berkumpul dalam Acara "Sasadu Kasadu" yang digelar di Pendopo Kecamatan Soreang, Minggu malam (21/12/2025).
Kegiatan ini dikemas dalam bentuk sawala atau diskusi terbuka yang secara khusus membahas upaya pelestarian Gunung Sadu serta purifikasi nilai-nilai budaya secara tradisional dan konservatif.
Diskusi yang berlangsung dari pukul 20.00 hingga 22.30 WIB ini menjadi ruang temu lintas disiplin, mulai dari dalang, penulis, ahli geologi, hingga praktisi kebudayaan. Acara dipandu oleh Mirsi Nira Insani selaku notulis sekaligus moderator, dengan dihadiri ratusan peserta dari berbagai latar belakang.
Dalam forum tersebut, Bhatara Sena Sunandar Sunarya, Dalang Anom Sabda Palon Giri Harja 3, memaparkan makna simbolik gunung dalam pewayangan. Ia menjelaskan bahwa setiap penampilan wayang selalu dibuka dengan gambaran gugunungan yang merepresentasikan keselarasan alam dan kehidupan.
“Di dalam gugunungan terdapat makhluk mitologis, seperti sosok kilin yang melambangkan singa berbadankan uncal. Ketika uncalnya habis, maka singanya pun mati. Ini pengingat bahwa jika alam dirusak, kehidupan akan ikut lenyap,” ujarnya.
Ia menambahkan, sisi lain gugunungan menampilkan sosok maung yang melambangkan manusia unggul. Menurutnya, manusia unggul adalah mereka yang mampu menjaga kelestarian alam. Dalam tradisi ruwatan, tumpeng yang dipotong puncaknya juga menjadi simbol gunung yang habis bila terus dieksploitasi.
Sementara itu, Radite Wiranatakusumah, Panggelar Ngertakeun Bumi Lamba, menyoroti keterkaitan erat Gunung Sadu dengan sejarah. Ia mengingatkan bahwa gunung tersebut memiliki hubungan langsung dengan sejarah Pasukan Siluman Merah.
“Hilangnya sebuah gunung berarti hilangnya sebagian memori sejarah, karena di sanalah peristiwa-peristiwa penting pernah terbangun,” ungkapnya.
Dari sisi keilmuan, Yusuf ‘Uceu’ Maulana, Ahli Geologi, menjelaskan keunikan Gunung Sadu secara ilmiah. Ia menyebut batuan di Gunung Sadu memiliki anomali magnetik yang lebih besar dibandingkan gunung dan bukit di sekitarnya, menjadikannya objek penting dalam kajian geologi.
Secara geografis, Gunung Sadu berada di tengah gugusan gunung lain sehingga berfungsi sebagai matrameru, atau titik temu gunung-gunung di sekitarnya. Dalam kosmologi Jawa-Hindu, konsep ini dipahami sebagai poros semesta yang menembus berbagai dimensi keberadaan.
“Bentuk Gunung Sadu yang menyerupai ziggurat memperkuat peran kosmologis tersebut,” kata Yusuf.
Ia juga menegaskan bahwa Gunung Sadu berfungsi sebagai reservoir air alami dengan kapasitas besar, yang berkontribusi langsung terhadap kesuburan tanah dan keberlangsungan kehidupan masyarakat sekitar.
Penulis dan budayawan Asep Mandala Satya atau Boedak Satepak mengungkapkan bahwa di Gunung Sadu terdapat situs kabuyutan. Dalam sejarahnya, batu satangtu di kawasan tersebut menjadi cikal bakal berdirinya sebuah nagara, dengan ciri khas lokasi yang selalu diapit oleh dua sungai.
“Di masanya, Gunung Sadu merupakan tempat pasaduan para bagawan,” jelasnya, menegaskan nilai spiritual dan historis kawasan tersebut.
Praktisi kebudayaan Dian Rahardian mengkritisi melemahnya nalar budaya masyarakat Sunda. Menurutnya, banyak warga terlenakan nilai luhur namun lupa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut kehidupan ditentukan oleh pangabutuh dan pangabetuh, yang berkaitan dengan mata pencaharian dan kebijakan politik.
“Karena itu, setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam pelestarian. Upaya ini tidak boleh berhenti di diskusi, tetapi harus mendorong lahirnya kebijakan politik yang nyata,” tegasnya kepada iNet99.id
Pandangan serupa disampaikan Man Jasad, praktisi kebudayaan lainnya. Ia menekankan bahwa merawat masa kini berarti merawat masa depan.
Menurutnya, generasi sekarang memiliki peran strategis dalam menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap ekosistem yang diwariskan.
“Kita sering mendambakan surga di langit, tetapi lupa menjaga surga di bumi,” ujarnya menutup pernyataan.
Sebagai hasil diskusi, para peserta sepakat menyusun deklarasi bersama yang memuat poin-poin urgensi pelestarian Gunung Sadu serta langkah konkret yang dapat ditempuh secara kolektif.
Deklarasi tersebut rencananya akan diserahkan kepada pemerintah setempat sebagai dasar tindak lanjut, termasuk mendorong penetapan Gunung Sadu sebagai kawasan cagar dengan batas dan luas yang jelas.
Acara Sasadu Kasadu pun resmi ditutup pada pukul 22.30 WIB. Forum ini diharapkan menjadi awal gerakan bersama untuk menjaga Gunung Sadu, tidak hanya sebagai bentang alam, tetapi juga sebagai pusat sejarah, budaya, dan peradaban.
Pewarta •Suryana
