Jalur Zonasi, Afirmasi, Prestasi, Perpindahan, Dian Rahadian: Sudah Saatnya Sistem Pendidikan Ereksi!
“Zonasi bikin orang pindah rumah dadakan. Afirmasi bisa disulap jadi kartu sakti. Prestasi? Cuma jadi harapan bagi yang punya akses bimbingan mahal. Dan perpindahan tugas? Entah benar pindah atau cuma surat mainan.”
Beginilah potret sistem penerimaan siswa baru di Indonesia yang saban tahun jadi bahan obrolan—dari warung kopi sampai grup WhatsApp wali murid. Niatnya adil dan merata, tapi pelaksanaannya sering bikin stres berjemaah.
Pemerintah memang sudah menyediakan berbagai jalur masuk sekolah: dari zonasi berdasarkan domisili, afirmasi bagi siswa kurang mampu, jalur prestasi untuk yang akademisnya cemerlang, hingga perpindahan tugas bagi anak pejabat atau ASN. Semua terdengar sah-sah saja. Tapi sayangnya, sistem ini lebih sering dimanfaatkan oleh yang licik daripada yang layak.
Di sinilah Dian Rahadian, pengamat politik asal kota Bandung nyentrik, melontarkan kritik tak biasa. Ia menyebut sistem ini harus ereksi.
Bukan dalam arti vulgar, tapi ereksi sebagai metafora kebangkitan: sistem yang berdiri tegak, kuat, dan tidak mudah disusupi manipulasi.
"Sistem pendidikan kita terlalu loyo. Yang dibutuhkan adalah sistem yang keras kepala terhadap penyimpangan, dan lentur terhadap keadilan," katanya.
Menurut Dian, sistem pendidikan seharusnya memberi gairah bagi siswa untuk berkembang, bukan membuat frustasi karena kalah oleh permainan domisili fiktif atau prestasi semu.
Ereksi dalam konteks ini adalah tegaknya komitmen terhadap mutu, ketegasan dalam kebijakan, dan keberanian untuk melawan praktik kecurangan yang dibungkus administrasi.
Sudah saatnya pendidikan kita berhenti rebahan dengan dalih “aturan pusat” dan mulai ereksi sebagai sistem yang hidup, adil, dan kokoh.
Karena kalau sistemnya loyo terus, maka yang berdiri bukan pendidikan, tapi praktik manipulasi yang terus-menerus jadi tradisi.
Red.
