Viral Warga Pikul Pasien Lewati Jalan Rusak di Bandung Barat, Sudah 15 Tahun Tak Diperbaiki
0 menit baca
![]() |
| Warga Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat terpaksa membawa pasien pakai bambu dan sarung karena jalan rusak.(Media sosial via Tribun Jabar) |
BANDUNG BARAT, iNET99.id – Sebuah video yang memperlihatkan warga memikul pasien menggunakan bambu dan kain sarung viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, dua warga tampak berjuang melewati jalan rusak dan licin sambil membawa seorang pasien.
Peristiwa itu ternyata terjadi di Desa Kidangpananjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Warga terpaksa menggotong pasien karena kondisi jalan yang rusak parah membuat kendaraan, termasuk ambulans, tidak dapat melintas.
Kepala Desa Kidangpananjung, Yuyu Yuhaeni, membenarkan kejadian yang berlangsung pada Rabu (21/10/2026) tersebut. Menurutnya, pasien merupakan salah seorang warga yang hendak mengurus surat rujukan berobat ke Puskesmas Mukapayung.
"Betul di Desa Kidangpananjung, itu hari Rabu pas mau buat surat rujukan ke Puskesmas Mukapayung, iya karena jalan rusak," kata Yuyu, dikutip dari Tribun Jabar.
Yuyu menjelaskan, keluarga pasien terpaksa memikul anggota keluarganya hingga mencapai titik pemberhentian ambulans terdekat. Kondisi jalan yang sulit dilalui kendaraan membuat cara tersebut menjadi pilihan agar pasien bisa mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Persoalan ini bukan sekadar kerusakan jalan biasa. Jalan desa sepanjang 2,6 kilometer dengan lebar sekitar 2,5 meter itu merupakan akses utama yang menghubungkan Kampung Gedungan, Kampung Cicapeu, hingga Kampung Cihanjuang.
Ironisnya, akses vital tersebut disebut sudah sekitar 15 tahun tidak mendapatkan perbaikan. Perbaikan terakhir dilakukan pada masa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) dari pemerintah pusat.
"Iya itu akses utama, tidak ada jalan lain. Sudah 15 tahun lalu diperbaiki, belum ada perbaikan lagi, awalnya jalan setapak cuma sama warga dibikin jalan diperlebar jadi 2,5 meter," ungkap Yuyu.
Pemerintah Desa Kidangpananjung mengaku telah berulang kali mengusulkan perbaikan jalan melalui berbagai jalur. Upaya tersebut antara lain melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), mengikuti kompetisi Bantuan Keuangan (Bankeu) di Bapelitbangda pada 2023, serta mengajukan proposal langsung kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2024 dan 2025.
Namun, berbagai pengajuan tersebut belum membuahkan hasil. Menurut Yuyu, usulan perbaikan belum terealisasi karena adanya pemangkasan anggaran di tingkat pemerintah yang lebih tinggi.
Bahkan pada 2026, pemerintah desa kembali menjadikan perbaikan jalan tersebut sebagai satu-satunya prioritas usulan pembangunan kepada pemerintah daerah.
Di sisi lain, kemampuan keuangan desa dinilai tidak mencukupi untuk membiayai perbaikan secara menyeluruh. Yuyu menyebut Alokasi Dana Desa (ADD) sekitar Rp900 juta tidak sebanding dengan kebutuhan anggaran perbaikan jalan yang diperkirakan mencapai Rp2,1 miliar.
Berdasarkan kalkulasi teknis pemerintah desa, pengaspalan hotmix untuk jalan sepanjang 2,6 kilometer tersebut membutuhkan dana sekitar Rp2,1 miliar.
"Kami tidak mampu kalau pakai dana desa, dana desa kami Rp900 juta dan sekarang habis dipakai KDKMP (Koperasi Desa Merah Putih)," tegasnya.
Yuyu berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera memberikan perhatian dan bantuan anggaran untuk memperbaiki akses tersebut. Pasalnya, jalan itu menjadi satu-satunya jalur penghubung bagi warga di sejumlah kampung, termasuk ketika membutuhkan layanan kesehatan.
Peristiwa warga harus memikul pasien melewati jalan rusak ini kembali memperlihatkan pentingnya infrastruktur dasar yang layak. Bagi masyarakat di wilayah tersebut, jalan bukan hanya sarana mobilitas, melainkan juga akses penting untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan kebutuhan sehari-hari.
SUMBER PEMBERITAAN
Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dan ditulis ulang oleh redaksi iNET99.id dengan tetap menjaga substansi informasi.
iNET99.ID | Informasi untuk Publik
