Ayah Korban Penyerangan Pasar Caringin Bandung Ungkap Kronologi, FR Sempat Berpamitan Cari Uang untuk Beli Susu
0 menit baca
BANDUNG, iNet99.id — Nandang Juhari (46) bergegas mencari anaknya, FR (22), setelah mendengar kabar keributan di Pasar Induk Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (24/10/2026) petang. Namun, pencarian tersebut berakhir dengan kabar duka setelah FR dinyatakan meninggal dunia.
Saat kejadian, Nandang sedang bekerja di bagian lain pasar. Selepas magrib, ia mendapat informasi mengenai keributan yang melibatkan sejumlah orang. Ketika tiba di lokasi, Nandang tidak menemukan anaknya. Ia hanya melihat bercak darah di tempat kejadian penyerangan sekelompok orang bersenjata tersebut.
Nandang kemudian mencari FR ke Pos 3 pasar, tempat teman-teman anaknya biasa berkumpul. Karena belum menemukan keberadaan anaknya, ia bergegas menuju Rumah Sakit Bandung Kiwari untuk memastikan kondisi FR.
Namun, setibanya di rumah sakit, Nandang justru menerima kabar bahwa anaknya telah meninggal dunia sekitar pukul 20.30 WIB.
"Saya sudah sampai di Rumah Sakit Bandung Kiwari, ada salah pengurus, bilang sama saya, 'Pak, maaf ya, anak Bapak sudah lewat (meninggal)," kata Nandang saat ditemui di rumah duka di Gang Porib, Jalan Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Minggu (25/10/2026) siang. Dikutip dari KOmpas.com
FR Disebut Mengikuti Temannya
Nandang mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, FR awalnya melihat temannya dibawa oleh pihak yang sedang berselisih. FR kemudian mengikuti temannya bersama sejumlah orang lain.
"Kronologinya mah anak saya lagi kerja, lihat temannya diambil sama pihak pelaku. Anak saya ngikutin sama teman-teman," ucap Nandang.
Dalam penyerangan tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka.
Nandang juga meluruskan informasi yang menyebut anaknya bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Caringin. Menurut dia, FR merupakan buruh harian yang membantu para pedagang menyiapkan dan membongkar meja dagangan setiap pagi.
"Anak bapak mah bukan tukang parkir, itu tiap pedagang dikasih meja sama anak saya, nyiapin meja, bongkar pagi-pagi gitu. Bukan tukang parkir, bukan tukang ngopi, bukan, bukan tukang ngopi bukan," terang Nandang.
Di mata keluarga, FR dikenal sebagai sosok yang baik dan tidak banyak tingkah. Nandang menduga anaknya terseret dalam peristiwa tersebut karena mengikuti teman-temannya.
"Baik, dia mah enggak neko-neko gitu. Mungkin karena ini kebawa-bawa gitu, ikut-ikutan aja gitu, jadi begini," tuturnya.
Sebelum Kejadian, FR Berpamitan Mencari Uang untuk Membeli Susu
Ibu FR, Sulastri (44), mengatakan bahwa sebelum kejadian, anaknya sempat memberikan uang kepada istrinya. FR juga berpamitan untuk mencari uang guna membeli susu bagi anaknya.
"Sempat ngasih uang, nitip anak, katanya mau cari uang buat beli susu. Terus dia bilang, mau pergi nanti juga balik lagi," ujar Sulastri.
Kepergian FR meninggalkan duka bagi keluarga. Di tengah kehilangan tersebut, Sulastri berharap perselisihan yang berujung penyerangan itu tidak berlanjut menjadi aksi balas dendam yang kembali menimbulkan korban.
Ia juga meminta keluarga pelaku bertanggung jawab terhadap istri dan anak FR, termasuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya.
"Misalkan perang lagi kan enggak mungkin nanti ada korban lagi. Saya minta kalau pelakunya udah dapat, minta keluarganya tolong ditanggung jawab, anak-anaknya sama istrinya, sekolahnya," pungkasnya.
Editor: Andi
Sumber: Kompas.com
