ADVERTISEMENT
Iklan

H. Baya Bawa Ekonomi Kreatif Majalengka Mengikuti Zaman, Budaya Leluhur Tetap Jadi Akar

H. Baya Bawa Ekonomi Kreatif Majalengka Mengikuti Zaman, Budaya Leluhur Tetap Jadi Akar
Ketua Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Majalengka H.Baya, Poto: Gemini ai

MAJALENGKA, iNet99.id – Perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Majalengka terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Kreativitas masyarakat kini tidak hanya bertumpu pada kesenian dan kebudayaan tradisional, tetapi juga mulai bersentuhan dengan dunia digital, konten kreatif, film, video, komunitas, pariwisata hingga berbagai bentuk usaha berbasis kreativitas.

Di tengah perkembangan tersebut, sosok H. Baya menjadi salah satu figur yang mendapat perhatian setelah dipercaya memimpin Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Majalengka. Kehadirannya membawa semangat untuk memperluas ruang kolaborasi bagi para pelaku ekonomi kreatif sekaligus memperkenalkan potensi Majalengka melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan masyarakat saat ini.

Salah satu momentum yang memperlihatkan arah tersebut adalah perayaan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) 2025 di Gedung Majalengka Creative Center pada 30 Oktober 2025. Dalam kegiatan itu, Komite Ekraf Majalengka meluncurkan kompetisi film pendek dan video profil Majalengka sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas.

Langkah tersebut menjadi menarik karena film pendek dan video merupakan bentuk komunikasi yang sangat dekat dengan generasi muda, termasuk Generasi Z atau Gen Z. Generasi ini tumbuh dalam lingkungan digital dan akrab dengan media sosial, video, fotografi, desain, musik serta berbagai bentuk konten kreatif sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pengembangan ekonomi kreatif tidak harus selalu dilakukan dengan meninggalkan budaya lama. Justru budaya daerah dapat dikemas menggunakan medium yang lebih modern sehingga cerita, kesenian, tradisi dan potensi lokal Majalengka dapat dikenal oleh generasi muda sekaligus menjangkau masyarakat yang lebih luas.

H.Baya saat mendatangi tempa leluhur.

H. Baya sendiri dalam sejumlah kegiatan menunjukkan perhatian terhadap keterhubungan antara ekonomi kreatif dan kebudayaan. Pada Februari 2026, ia hadir dalam kegiatan budaya di Situs Sangraja, Cigasong, yang di dalamnya terdapat pertunjukan seni tradisi Sampyong. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda Ngaruat Jagat Alam Cai Kahuripan dalam rangkaian Hari Jadi Majalengka ke-186.

Dalam kegiatan tersebut, H. Baya menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menjaga seni tradisi agar tetap hidup bersama masyarakat. Sampyong tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perhatian terhadap tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan leluhur juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Bagi perkembangan ekonomi kreatif, keberadaan situs sejarah dan budaya dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan berbagai karya sekaligus memperkuat identitas daerah.

Di sisi lain, pengembangan Ekraf juga diarahkan kepada peningkatan kemampuan pelaku usaha. Pada 6 Maret 2026, misalnya, digelar Workshop Agent Travel Wisata #KelasSenja di Majalengka Creative Center. Kegiatan tersebut diikuti pelaku usaha dan komunitas kreatif dengan pembahasan mengenai peluang bisnis agen perjalanan wisata, jaringan usaha, penyusunan paket perjalanan hingga pemanfaatan destinasi lokal. H. Baya turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Hal tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif memiliki ruang yang luas dan tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan. Pariwisata, perjalanan wisata, promosi destinasi dan kemampuan mengemas potensi lokal menjadi produk yang memiliki nilai jual juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif daerah.

Kolaborasi antara tradisi dan kreativitas modern juga terlihat ketika Komite Ekraf Majalengka terlibat dalam penyambutan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait pada Maret 2026. Saat itu ditampilkan Rampak Genteng dan musik dari Jatiwangi Art Factory (JAF), yang mengolah karakter industri genteng lokal menjadi bagian dari pertunjukan seni.

Bagi generasi muda, pendekatan seperti ini dapat menjadi contoh bahwa kebudayaan tidak harus ditempatkan sebagai sesuatu yang kuno. Material, tradisi, cerita dan identitas lokal dapat dikembangkan menjadi karya baru melalui musik, visual, pertunjukan, video maupun media digital, selama tetap menghormati akar budaya yang dimilikinya.

Majalengka sendiri memiliki berbagai kekayaan seni dan budaya serta sejumlah festival berbasis komunitas seperti Rampak Genteng dan bentuk kreativitas lainnya. Artinya, ekosistem ekonomi kreatif daerah sebenarnya memiliki modal budaya yang kuat untuk terus dikembangkan melalui kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha, pemerintah dan generasi muda.

Di bawah kepemimpinan H. Baya, tantangan Komite Ekraf Majalengka ke depan adalah bagaimana menjaga kesinambungan gerakan tersebut. Bukan hanya melahirkan kegiatan, tetapi juga mendorong agar kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi ekosistem yang memberi ruang bagi pelaku seni, komunitas, UMKM, generasi muda dan sektor pariwisata untuk tumbuh bersama.

H. Baya, pria asal Majalengka, kini berada di tengah upaya mempertemukan dua kekuatan tersebut: akar budaya leluhur dan kreativitas generasi masa kini. Jika keduanya mampu berjalan beriringan, ekonomi kreatif Majalengka bukan hanya menjadi ruang untuk mempertahankan warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi salah satu pintu bagi lahirnya karya, peluang usaha dan identitas baru Majalengka di tengah perubahan zaman.


Penulis: Yudhistira

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

Terkini