Dicecar Soal Sisa MBG, Kepala BGN Sudaryono: kalau sekolah negeri, itu harus iya, iya semua. Kalau tidak, tidak semua
0 menit baca
Jakarta, inet99.id — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mendadak menjadi sorotan tajam publik setelah memberikan jawaban yang dinilai tidak nyambung saat dicecar mengenai nasib sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG). Momen penuh ketegangan ini terjadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara BGN dan Komisi IX DPR RI yang berlangsung di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Kamis, 17 September 2026.
Dalam rapat tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris, secara spesifik mempertanyakan bagaimana mekanisme penanganan ribuan porsi makanan dari program MBG yang tidak habis dikonsumsi oleh para siswa di sekolah. Pertanyaan ini krusial untuk memastikan tidak adanya pemborosan anggaran maupun risiko kesehatan dari makanan yang tersisa.
"Jadi, kalau misalnya di sekolah itu, orangtua tidak mengizinkan anaknya untuk mengkonsumsi, lalu sisa makanannya akan dibuat apa? Apakah dikembalikan atau dibuang?" tanya Charles kritis di hadapan para peserta rapat.
Alih-alih memberikan jawaban yang lugas dan langsung merespons substansi mekanisme penanganan sisa makanan tersebut, Sudaryono justru membelokkan penjelasannya ke sistem distribusi umum MBG ke sekolah-sekolah. Sontak, alur penjelasan tersebut membuat suasana rapat terasa canggung.
Sudaryono terlihat jelas terbata-bata saat mencoba merangkai kata untuk menjawab pertanyaan pimpinan sidang. Ia tampak mengalami kesulitan dalam menjelaskan teknis di lapangan secara sistematis.
Situasi kian menarik perhatian ketika Sudaryono sempat menghentikan pembicaraannya di tengah jalan. Ia terlihat menoleh ke arah samping untuk "berkonsultasi" secara kilat dengan Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, yang duduk tepat di sebelah kirinya.
Mimik wajah Sudaryono pun tampak jelas kebingungan saat jeda singkat tersebut terjadi. Pandangan matanya beberapa kali terlihat beralih bolak-balik antara peserta rapat dan catatan-catatan penting yang tersusun di atas meja kerjanya.
Setelah jeda konsultasi kilat itu, Sudaryono berusaha melanjutkan kembali penjelasannya di hadapan para legislator.
"Sampai saat ini, Pak Charles, itu adalah, sekolah itu, kalau sekolah negeri, itu harus iya, iya semua. Kalau tidak, tidak semua," jawabnya dengan kalimat yang dinilai berputar-putar.
Pernyataan lanjutan tersebut justru dinilai semakin membingungkan dan sulit dipahami oleh para anggota dewan yang hadir. Alih-alih memperjelas persoalan tata kelola sisa makanan, jawaban tersebut menuai beragam respons kritis dari ruang rapat Komisi IX.
Kejadian ini langsung memicu perbincangan hangat di berbagai platform media sosial dan portal berita nasional. Publik menilai pengawasan terhadap program strategis nasional seperti MBG harus dikawal ketat agar implementasi di lapangan berjalan transparan dan akuntabel.
Editor: Andi
