DIAN RAHADIAN Soroti Agama dan Budaya sebagai “Obat Penenang” Ketimpangan Ekonomi Politik
0 menit baca
![]() |
| Ketua Umum LPP GPK Garda Pengawas Kebijakan |
Jawa Barat, iNet99.id - Perdebatan mengenai hubungan agama, budaya, dan kondisi ekonomi politik masyarakat kembali mencuat setelah muncul pandangan kritis yang menyebut bahwa agama dan budaya dapat dijadikan sebagai “obat penenang dosis tinggi” bagi mereka yang kalah dan gagal secara ekonomi maupun politik.
Pandangan tersebut disampaikan dalam konteks kritik sosial terhadap realitas kehidupan masyarakat yang dinilai semakin terbiasa menerima ketimpangan tanpa adanya dorongan untuk melakukan perubahan struktural.
Ketua Umum LPP GPK Garda Pengawas Kebijakan Jawa Barat, Dian Rahadian, menilai fenomena tersebut perlu dipahami secara mendalam dan tidak hanya dilihat dari sudut pandang agama semata.
“Frasa ‘agama dan budaya dijadikan sebagai obat penenang dosis tinggi bagi yang kalah dan gagal secara ekonomi politik’ memang terdengar sangat nyentil. Tetapi ini sejatinya merupakan kritik sosial terhadap kondisi masyarakat hari ini,” ujar Dian Rahadian.
Menurutnya, pandangan tersebut memiliki kemiripan dengan pemikiran Karl Marx yang pernah menyebut bahwa “agama adalah candu bagi rakyat”, yakni ketika agama digunakan untuk membuat masyarakat pasrah terhadap ketidakadilan ekonomi dan politik.
Dian menjelaskan, terdapat beberapa sudut pandang yang sering muncul dalam memahami persoalan tersebut.
Pertama, sebagai kritik sosial. Dalam kondisi tertentu, agama dan budaya dinilai dapat berfungsi meredam kemarahan masyarakat yang mengalami kekalahan secara ekonomi maupun politik. Fokus masyarakat diarahkan pada kehidupan akhirat, takdir, atau nilai “nrimo”, sehingga tuntutan terhadap perubahan sistem menjadi melemah.
Budaya juga dianggap dapat menormalisasi ketimpangan melalui berbagai ungkapan seperti “sudah nasib”, “yang penting sabar”, atau ritual yang memberi ketenangan emosional tetapi tidak menyentuh akar persoalan sosial.
“Kondisi ini membuat masyarakat terkadang lebih memilih bertahan dibanding mempertanyakan ketidakadilan yang terjadi,” kata Dian.
Namun di sisi lain, ia juga menilai agama dan budaya memiliki fungsi sosial yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, doa, komunitas, dan tradisi sosial nyata membantu banyak orang bertahan menghadapi tekanan hidup, mencegah depresi, menjaga solidaritas sosial, hingga menghindarkan masyarakat dari kekacauan sosial.
“Agama dan budaya juga menjadi mekanisme coping agar masyarakat tidak runtuh secara mental dan sosial. Jadi tidak selalu negatif,” jelasnya.
Selain itu, Dian Rahadian juga menyoroti bagaimana agama dan budaya terkadang digunakan sebagai alat politik oleh pihak tertentu untuk meredam kritik publik.
Narasi seperti “harus bersyukur”, “jangan iri”, atau ajakan untuk terus menerima keadaan disebut kerap dimunculkan di tengah kebijakan ekonomi yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.
“Dosisnya menjadi tinggi ketika agama dan budaya dipakai untuk menutupi masalah struktural dan membungkam kritik masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai inti persoalan sebenarnya terletak pada bagaimana agama dan budaya digunakan dalam kehidupan sosial dan politik.
“Agama dan budaya bisa menjadi penyelamat jiwa, tetapi juga bisa menjadi peredam perubahan. Kalau dipakai hanya untuk membuat rakyat diam menerima ketidakadilan, itu berbahaya. Namun jika digunakan untuk membangun harapan, solidaritas, dan perjuangan yang bermartabat, maka itu menjadi kekuatan besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Dian Rahadian juga menyinggung fenomena yang ia sebut sebagai “kemiskinan yang beradab dan kebodohan yang bijaksana”, yakni kondisi ketika masyarakat tetap hidup dalam keterbatasan namun diarahkan untuk menganggap keadaan tersebut sebagai sesuatu yang wajar tanpa dorongan perubahan sosial yang nyata.
Editor: Andi
Media inet99.id
