Melalui Bertani, SMAN 1 Cikijing Terapkan Nilai Gapura Pancawaluya
0 menit baca
Majalengka, iNet99.id— Sejumlah siswa SMAN 1 Cikijing tampak tekun mengolah tanah di halaman sekolah. Tangan mereka kotor, seragam sedikit berdebu, namun wajah-wajah itu memancarkan semangat. Aktivitas tersebut bukan sekadar kegiatan luar kelas, melainkan bagian dari ikhtiar sekolah menanamkan nilai karakter kepada para peserta didik.
Komite Sekolah SMAN 1 Cikijing menggagas program bertani sebagai sarana penguatan pendidikan karakter. Program ini lahir dari kolaborasi Komite Pancawaluya dengan pihak sekolah, dengan tujuan menumbuhkan nilai kemandirian, disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Ketua Komite Sekolah SMAN 1 Cikijing, H. Baya, mengatakan pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan sikap dan akhlak siswa. Menurut dia, pembelajaran berbasis pengalaman menjadi media efektif untuk menanamkan nilai kehidupan.
“Melalui bertani, siswa belajar sabar dan bertanggung jawab. Mereka memahami bahwa setiap hasil memerlukan proses. Di situlah karakter dibentuk,” ujar Baya, Jumat (23/1/2026).
Pada tahap awal, sekolah memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Sejumlah komoditas seperti bibit anggur, daun katuk, dan berbagai jenis sayuran mulai ditanam. Seluruh tahapan, mulai dari pengolahan lahan hingga perawatan tanaman, melibatkan siswa secara langsung.
Program ini juga dinilai sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui konsep Gapura Pancawaluya—cageur, bageur, bener, pinter, jeung singer. Nilai-nilai tersebut diupayakan hadir dalam keseharian siswa, tidak hanya sebagai slogan, tetapi diwujudkan dalam aktivitas nyata.
Dalam kesempatan terpisah, H. Baya turut menyampaikan salam serta laporan kegiatan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui unggahan video. Ia berharap program tersebut mendapat dukungan dan bimbingan dari pemerintah daerah.
“Sampurasun, Pak Gubernur. Salam baktos dari SMAN 1 Cikijing, Majalengka. Kami berupaya mewujudkan nilai Gapura Pancawaluya dalam kegiatan nyata di sekolah. Mohon dukungan dan bimbingannya,” ucap Baya.
Pihak sekolah menilai kegiatan bertani turut memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Nilai gotong royong tumbuh saat siswa bekerja bersama, kemandirian diasah melalui tanggung jawab merawat tanaman, dan sikap reflektif berkembang ketika siswa belajar dari proses serta hasil yang mereka capai.
Kedepan, Komite Sekolah SMAN 1 Cikijing berharap program ini dapat berkelanjutan dan menjadi contoh penerapan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Bagi sekolah, halaman bukan sekadar ruang terbuka, melainkan wahana pembelajaran untuk membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, dan peduli lingkungan. (Eko)
