Kasokandel: Desa Legenda, Golok Berdarah, dan Bayang-bayang Industri
0 menit baca
Majalengka, Inet99.id - Desa Kasokandel di Kabupaten Majalengka menyimpan kisah panjang yang penuh legenda, pusaka sakral, hingga mitos penyembuh. Namun kini, wajah desa yang dulunya tenang mulai berubah, bergeser ke arah kawasan industri.
Di kantor desa yang sepi pada Kamis (4/9/2025), Sudono, pensiunan penilik kebudayaan, bercerita dengan penuh semangat. "Desa ini bermula ketika Buyut Bungkar membuka hutan Kasokandel," ujarnya. Dari sana lahir cerita tentang pertemuan ayah dan anak, pusaka golok berdarah, hingga kisah tragis para leluhur.
Awal Nama Kasokandel
Legenda menyebut, nama Kasokandel berasal dari pertemuan Arya Salingsingan, bangsawan Kerajaan Talaga Manggung, dengan putranya Kambang di tengah hutan lebat. Dari sanalah lahir sebutan Kasokandel.
Kepala Desa Kusno menambahkan, nama itu juga bisa merujuk pada tanaman kaso yang banyak tumbuh di wilayah tersebut.
Jejak Para Pandai Besi
Kasokandel juga dikenal sebagai desa pandai besi. Asep Sunanto, keturunan tokoh Pandai, menyebut Arya Salingsingan pernah mengundang ahli perkakas dari Majalengka untuk menetap di desa ini.
"Awalnya ditolak, baru tawaran ketiga mereka mau pindah. Sejak itu warga Kasokandel belajar membuat alat pertanian hingga senjata," katanya.
Golok Berdarah
Salah satu senjata paling melegenda adalah Golok Paut Nyere. Konon, meski dicuci setiap malam 12 Mulud, noda darah di bilahnya tak pernah hilang. Golok ini diyakini pernah digunakan pejuang lokal Uyut Karsani dalam melawan Belanda.
Tragedi Keluarga
Sudono pun menyimpan cerita pribadi. Kakeknya, U Djunaedi, seorang tentara sekaligus kepala desa, tewas dibunuh Belanda akibat dikhianati mata-mata. Hingga kini, makamnya tak pernah ditemukan.
Sumur Penyembuh
Tak hanya pusaka, Kasokandel juga punya sumur mitos di Blok Cigobang. Airnya dipercaya menyembuhkan penyakit, membuat warga dari berbagai desa datang membawa botol untuk mengambilnya.
Antara Legenda dan Industri
Kini, Kasokandel berdiri di persimpangan. Pabrik-pabrik bermunculan, menyerap tenaga kerja, namun juga membuat cerita leluhur kian terpinggirkan.
“Kami tidak ingin kehilangan sejarah dan kebudayaan desa ini,” kata Rohendi, Ketua BPD Kasokandel.
Sudono menutup kisahnya dengan pesan sederhana. “Generasi muda boleh bekerja di pabrik, tapi mereka juga harus tahu dari mana desa ini berasal.” (Eko)
