Yayasan Panata Giri Raharja Identifikasi Puluhan Mata Air di Pacira, Susun Langkah Pelestarian
![]() |
| Identifikasi mata air Pacira oleh Yayasan Panata Giri Raharja. (Dok. Yayasan) |
Bandung iNet99.id – Yayasan Panata Giri Raharja bersama Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) melakukan identifikasi puluhan mata air di wilayah Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali (Pacira), Kabupaten Bandung, sebagai langkah awal melihat kondisi sumber air dan lingkungan pendukungnya.
Identifikasi yang dilakukan selama sekitar dua pekan tersebut tidak hanya melihat debit mata air, tetapi juga kondisi kawasan resapan, sempadan sungai, mikro daerah aliran sungai (mikro DAS), hingga rawa gunung yang memiliki keterkaitan dengan keberadaan sumber air.
Ketua Yayasan Panata Giri Raharja, Memet Achmad Surachman atau yang akrab disapa Eyang Memet, mengatakan perhatian terhadap mata air berawal dari kegelisahan melihat perubahan kondisi alam dan iklim yang semakin terasa.
“Ini hanya bentuk panggilan hati saja. Berawal dari sebuah kekhawatiran ketika kita mencoba mendengar, menyaksikan, dan membaca bagaimana kondisi iklim saat ini. Kita merasakan panas yang sangat hebat sehingga ada sesuatu yang harus kami lakukan,” ujar Eyang Memet saat ditemui di kediamannya, Jumat (10/7/2026).
![]() |
| Eyang Memet bersama tim Yayasan Panata Giri Raharja dan FK3I usai wawancara terkait identifikasi mata air Pacira. |
Menurut Eyang Memet, program musim tanam 2026 telah dipersiapkan sejak satu tahun lalu dengan salah satu perhatian pada upaya menjaga dan melindungi mata air.
Ia menjelaskan, langkah pelestarian harus menyesuaikan kondisi setiap kawasan, termasuk menentukan jenis vegetasi yang sesuai.
“Kalau berbicara objek yang akan ditanam, itu akan menentukan tanaman apa yang harus disiapkan untuk pelestarian dan perlindungan mata air. Jenis tanaman yang sesuai peruntukannya sudah disiapkan sejak satu tahun yang lalu,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pengawas FK3I Jawa Barat Riki Rohimat Effendi mengatakan, kondisi mata air berkaitan erat dengan kondisi lingkungan di sekitarnya.
“Ketika berbicara mata air, itu menjadi parameter lingkungan yang baik. Ketika vegetasi bagus, lingkungan bagus, airnya juga bagus,” ujar Riki.
Menurut Riki, hasil identifikasi menunjukkan kondisi yang berbeda di sejumlah titik. Sebagian kawasan masih memiliki vegetasi yang baik, sementara beberapa lokasi membutuhkan perhatian terhadap lingkungan pendukungnya.
Kegiatan tersebut turut melibatkan BKO FK3I Jawa Barat Uus Sopianda serta Yusuf Jabaril Suwanda dari FK3I Bandung Selatan.
Hasil identifikasi tersebut akan menjadi bahan untuk menyusun langkah pelestarian berikutnya. Upaya menjaga mata air Pacira diharapkan dapat menjadi perhatian bersama karena keberadaan air berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Sebab, menjaga sumber air bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan masyarakat di Bandung Selatan.*

