Bawang Putih dan Ijazah Disentil Luhut, Kampus Diminta Fokus Riset
0 menit baca
Solo, iNet99.id - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan menyoroti peran perguruan tinggi dalam meningkatkan produktivitas bawang putih nasional. Dalam pernyataannya, Luhut juga menyinggung polemik ijazah yang dinilai terlalu sering diributkan dibanding riset berdampak langsung bagi negara.
Menurut Luhut, Indonesia membutuhkan bibit bawang putih yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkualitas dan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.
“Bicara bawang putih, kita harus berbicara kualitas dari bibit-bibit yang kita punya. Tidak hanya jumlah, tapi kualitas dan adaptable terhadap perubahan iklim,” kata Luhut saat berbicara di acara Solo Investment Festival di Solo, Jumat (12/12).
Kampus Diminta Turun ke Riset Pertanian
Luhut secara tegas mendorong perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk aktif melakukan penelitian pengembangan bawang putih. Ia menilai kampus memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan ketergantungan impor.
Beberapa universitas yang disebut memiliki kapasitas riset tersebut antara lain Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Universitas Sebelas Maret, Universitas Diponegoro, misalnya, studi tanah-tanah ketinggian seribu meter yang cocok untuk bibit bawang putih,” ujar Luhut.
Singgung Polemik Ijazah
Dalam pernyataannya, Luhut juga menyinggung polemik ijazah yang kerap mencuat di lingkungan kampus. Ia meminta perguruan tinggi lebih fokus pada penelitian yang memberi dampak nyata bagi sektor pangan nasional.
“UGM, jangan soal ijazah melulu aja yang diributin. Kalian bikin studi dong, di mana nih di Jawa Tengah ini tempat kita bisa menanam bawang putih,” katanya.
Riset Mandiri di Danau Toba
Selain mendorong kampus, Luhut mengungkapkan dirinya telah melakukan penelitian mandiri untuk mencari varietas baru bawang putih melalui metode genome sequencing. Riset tersebut dilakukan di kawasan Danau Toba pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut.
Ia menegaskan penelitian tersebut dilakukan secara sederhana dengan melibatkan profesor-profesor muda di Indonesia dan menggunakan dana pribadi.
“Nggak mahal-mahal. Uang kantong saya sendiri kok, paling kuat berapa. Ada profesor-profesor muda kita yang bisa,” ujarnya.
Klaim Hasil Riset Positif
Luhut mengklaim riset yang dilakukan kini telah menunjukkan hasil menggembirakan. Varietas bawang putih yang dikembangkan disebut memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan bibit yang selama ini digunakan.
“Mereka buat riset genome sequencing, saya tinggal memfasilitasi mereka. Sekarang sudah sampai pada ujung, mulai produksi jadi bibit yang yield-nya lebih tinggi,” kata dia.
Impor Bawang Putih Capai Rp12,8 Triliun
Menurut Luhut, peningkatan produktivitas bawang putih nasional sangat penting untuk menekan nilai impor. Saat ini, nilai impor bibit bawang putih Indonesia mencapai sekitar US$770 juta atau setara Rp12,8 triliun.
Ia menyebut, jika impor bisa ditekan secara bertahap hingga 50 persen, maka negara berpotensi menghemat anggaran hingga triliunan rupiah.
“Kalau bisa (ditekan) 50 persen bertahap, sama dengan 350 juta USD. Itu 4 hampir 5 triliun rupiah,” kata Luhut.
Editor •Andi
