Ratusan Anak di Lebong Keracunan Massal Usai Santap MBG, Korban Tembus 427
0 menit baca
![]() |
| Wali Kota Kupang Christian Widodo saat mengunjungi pelajar SMPN 8 Kupang yang sedang dirawat di rumah sakit diduga akibat mengonsumsi MBG. Antara/HO-Pemkot Kupang |
INET99.ID – Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, membuat geger masyarakat. Hingga Kamis, 28 Agustus 2025, jumlah korban yang diduga keracunan bertambah menjadi 427 anak.
Para korban mengalami gejala mual, muntah, hingga tubuh terasa lemas setelah menyantap menu MBG yang disajikan di sekolah. Insiden ini memicu keprihatinan sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai kualitas penyelenggaraan program MBG di daerah tersebut.
Korban Keracunan Terus Bertambah
Data sementara mencatat, korban berasal dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari PAUD hingga sekolah dasar (SD). Beberapa sekolah yang siswanya terdampak antara lain:
- SD IT Al Azhar
- PAUD IT Al Azhar
- SD Muhammadiyah 1 A Ujung Tanjung
- TK IT Tabeak Kauk
Gejala keracunan mulai muncul pada Rabu, 27 Agustus 2025, tidak lama setelah para siswa menyantap menu MBG yang terdiri dari mi, bakso, sayuran, susu, dan telur.
Rumah Sakit Dipenuhi Korban
Sejak Rabu pagi, RSUD Lebong menjadi pusat penanganan darurat bagi ratusan siswa yang tumbang. Jumlah pasien terus bertambah setiap jamnya sehingga rumah sakit harus bekerja ekstra untuk memberikan pelayanan kesehatan.
Pihak rumah sakit bahkan sempat kewalahan akibat keterbatasan fasilitas. Namun, bantuan segera datang dari pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menambah kasur pasien.
Respon Pemerintah Provinsi Bengkulu
Kondisi ini langsung mendapat perhatian serius dari Wakil Gubernur Bengkulu, Mian. Ia datang menjenguk para korban di RSUD Lebong pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Mian menegaskan bahwa pemerintah provinsi telah menyiapkan langkah cepat, terutama terkait pasokan obat.
“Saya sudah minta dinas kesehatan provinsi menambah buffer stock obat ke Lebong. Walaupun stok cukup untuk 100 pasien ke depan, kami tetap tambah agar siap menghadapi kondisi darurat,” kata Mian, dikutip dari Antara, kamis 28 Aguatus 2025.
Mian juga memastikan bahwa Pemprov Bengkulu akan mengawal penanganan kasus ini agar berjalan optimal.
“Atas nama Pak Gubernur, kami pastikan semua ditangani sebaik mungkin. Pemerintah harus hadir,” tambahnya.
Kendala di Tingkat Kabupaten
Di sisi lain, Wakil Bupati Lebong, Bambang Agus Suprabudi, mengungkapkan kendala utama yang dihadapi sejak awal penanganan korban. Menurutnya, fasilitas tempat tidur pasien menjadi masalah paling mendesak.
“Kemarin (Rabu) kendala kami adalah tempat tidur. Tetapi kondisi itu sudah diatasi. BPBD telah mengirimkan tambahan kasur untuk pasien,” ujar Bambang.
Dengan tambahan kasur dan dukungan dari berbagai pihak, kondisi penanganan darurat di RSUD Lebong kini mulai terkendali.
Perhatian Publik Menguat
Kasus ini menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan standar pengolahan dan distribusi makanan MBG di sekolah-sekolah.
Program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan gizi siswa di berbagai daerah. Namun, kejadian di Lebong justru menimbulkan kekhawatiran mengenai kualitas pengawasan makanan yang disediakan.
Harapan Pemulihan Korban
Pemerintah daerah dan provinsi kini sama-sama berharap kondisi ratusan siswa yang menjadi korban keracunan dapat segera pulih. Dengan tambahan obat-obatan dari provinsi dan dukungan fasilitas kesehatan dari kabupaten, perawatan para pasien diharapkan lebih optimal.
Warga juga berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.
Evaluasi Program MBG Mendesak
Insiden di Lebong menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG di seluruh Indonesia. Jika tidak ada kontrol ketat terhadap kualitas bahan pangan dan cara pengolahannya, program yang seharusnya bermanfaat justru bisa membahayakan.
Pemerintah daerah dan pusat perlu memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan di semua sekolah penerima MBG. Hal ini sangat penting karena yang menjadi sasaran utama adalah anak-anak usia sekolah, kelompok paling rentan terhadap keracunan makanan.
Dukungan Psikologis Juga Diperlukan
Selain penanganan medis, banyak pihak menilai korban keracunan massal ini juga membutuhkan perhatian psikologis. Ratusan siswa yang mendadak sakit setelah makan di sekolah bisa saja mengalami trauma.
Dinas pendidikan dan pihak sekolah diharapkan bekerja sama memberikan pendampingan agar anak-anak tidak takut lagi untuk mengikuti program makan bersama di masa depan.
Pemerintah Diminta Transparan
Berbagai pihak mendesak pemerintah agar transparan terkait hasil investigasi penyebab keracunan massal ini. Apakah berasal dari bahan pangan, cara pengolahan, atau faktor distribusi.
Transparansi sangat penting agar masyarakat kembali percaya pada program MBG dan kejadian serupa bisa dicegah.
Kasus keracunan massal MBG di Lebong yang menimpa 427 anak menjadi tragedi yang menyentuh hati banyak orang. Pemerintah sudah bergerak cepat menambah obat, fasilitas, dan tenaga kesehatan. Namun, lebih dari itu, peristiwa ini menjadi momentum evaluasi serius atas penyelenggaraan program makan bergizi gratis di sekolah.
Semoga semua korban segera pulih dan bisa kembali beraktivitas normal. Masyarakat menanti langkah nyata pemerintah agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari. Aamiin.
Editor •Andi
